TRENDING

Peristiwa Langit

Alam Semesta

Keplanetan

Misi dan Riset

4 September 2015

Pesona Aurora Australis di Selandia Baru

Pesona Aurora Australis di Selandia Baru
Aurora australis di Selandia Baru. Kredit: Minoru Yoneto
Info Astronomy - Juli 2015 kemarin mungkin menjadi saat yang paling berkesan bagi astrofotografer Minoru Yoneto asal Jepang. Ia berhasil memotret aurora pertamanya saat berliburan di wilayah Queenstown, Selandia Baru.

"Situasi benar-benar langka di malam itu. Saya tidak pernah melihat aurora sebelumnya, dan pengalaman pertama saya ini sungguh luar biasa," kata Yoneto seperti dilansir dari Space Weather.

Aurora adalah fenomena cahaya yang disebabkan oleh partikel berenergi tinggi dari angin Matahari yang berinteraksi dengan medan magnet Bumi. Karena aurora disebabkan oleh interaksi angin surya dengan medan magnet Bumi, Anda hanya dapat melihat aurora di daerah sekitar kutub, Utara dan Selatan. Itulah sebabnya aurora tidak pernah muncul di Indonesia, karena kita berada di daerah ekuator.

Di Utara, aurora disebut aurora borealis, atau Cahaya Utara. Aurora adalah nama dewi romawi yaitu fajar, dan “boreal” berarti “utara” dalam bahasa Latin. Di belahan Bumi Selatan, aurora disebut aurora australis (bahasa Latin untuk “selatan”).

Aurora mengikuti siklus Matahari dan cenderung lebih sering terjadi pada akhir musim gugur dan awal musim semi (Oktober, Februari, dan Maret adalah bulan-bulan terbaik untuk melihat aurora). Disekitar Lingkaran Arktik di utara Norwegia dan Alaska, Anda dapat melihat aurora hampir setiap malam. Jika Anda bergerak ke selatan, frekuensi aurora berkurang.

Ion oksigen memancarkan cahaya merah dan kuning. Ion Nitrogen memancarkan merah, biru, dan ungu. Kita melihat hijau dalam wilayah atmosfer di mana terdapat oksigen dan nitrogen. Kita melihat warna yang berbeda pada ketinggian yang berbeda karena konsentrasi relatif dari oksigen ke nitrogen di atmosfer berubah sesuai dengan ketinggian.

Aurora bisa berwarna hijau, merah, atau biru. Seringkali mereka akan menjadi kombinasi warna, dengan masing-masing warna terlihat pada ketinggian yang berbeda di atmosfer. Aurora biru dan ungu muncul pada ketinggian kurang dari 120 kilometer, aurora hijau:120-180 km dan aurora merah seperti di Selandia Baru ini muncul di ketinggian lebih dari 180 km.

Ingin melihat aurora? Berkunjunglah ke negara-negara di sekitar lingkar arktik atau Austalia dan Selandia Baru.

Stasiun Luar Angkasa Internasional Kedatangan Tiga Penghuni Baru

Dari kiri ke kanan: Aidyn Aimbetov (Kazakhstan), Sergei Volkov (Rusia) dan Andreas Mogensen (Denmark). Kredit: NASA
Info Astronomy - Tiga kru baru telah berhasil diluncurkan menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (atau International Space Station/ISS) pada Rabu, 2 September 2015 pukul 11:37 WIB. Mereka adalah Aidyn Aimbetov dari Badan Antariksa Kazakhstan, Sergei Volkov dari Badan Antariksa Federal Rusia (Roscosmos) dan Andreas Mogensen dari Denmark yang merupakan negara bagian dari ESA (European Space Agency).

Ketiganya meluncur dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan dengan menumpangi Soyuz TMA-18M. Mogensen dan Aimbetov merupakan astronot yang hanya memiliki durasi misi yang tidak terlalu lama di ISS nanti, sementara Volkov akan menghabiskan enam bulan di ISS.

Trio astronot telah tiba di ISS dengan melakukan docking atau merapat pada modul Poisk pada pukul 14:42 WIB hari Jumat, 4 September 2015.

Sementara itu, ketiganya akan bisa masuk ke ISS pada pukul 17:15 WIB (4/9). Mereka akan disambut oleh Komnandan Ekspedisi 44 Gennady Padalka, Oleg Kononenko dan Mikhail Kornienko dari Roscosmos, tidak ketinggalan Scott Kelly dan Kjell Lindgren dari NASA, serta Kimiya Yui dari Japan Aerospace Exploration Agency.

Ini akan menjadi pertama kalinya sejak November 2013, akan ada sembilan astronot bersama-sama di dalam ISS. Namun, Padalka, Mogensen dan Aimbetov akan kembali ke Bumi pada Sabtu, 12 September 2015, meninggalkan Kelly dalam misi Ekspedisi 45.

Serah terima jabatan komandan dari Padalka untuk Kelly juga akan dilakukan sebelum kosmonot Rusia itu kembali ke Bumi, dan pastinya akan disiarkan di NASA TV pada Sabtu, 5 September 2015 pukul 15:40 WIB.

Kelly dan Kornienko akan kembali ke Bumi pada Maret 2016 setelah menghabiskan satu tahun di ISS untuk mengumpulkan data biomedis yang akan meningkatkan pemahaman kita tentang efek perjalanan ruang angkasa dalam durasi yang panjang serta data untuk perjalanan NASA ke Mars.

Setelah Ekspedisi 44 yang dikomandoi Padalka berakhir, misi Ekspedisi 45 yang dikomandoi Kelly akan melanjutkan beberapa ratus percobaan ilmiah lagi, yakni biologi, bioteknologi, ilmu fisika dan ilmu bumi.

Good luck, astronauts!

Bumi Masih Punya Banyak Pohon Dari yang Kita Pikirkan, Tapi Tetap Tak Cukup

Pepohonan di hutan. Kredit: Shutterstock
Info Astronomy - Ada sebuah kabar baik, yakni populasi manusia saat ini masih kalah jumlah dari seluruh pohon di Bumi. Sensus global yang baru-baru ini meneliti pohon di Bumi memperkirakan bahwa (masih) ada lebih dari 3 triliun pohon pada satu-satunya planet berkehidupan cerdas di Tata Surya. Namun jumlah total pohon di Bumi telah turun hampir 50% sejak peradaban manusia dimulai.

Studi ini disebut-sebut sebagai studi paling akurat dari perkiraan populasi pohon di Bumi sampai saat ini, mengungkapkan bahwa ada 3,04 triliun pohon, yang kira-kira setara dengan 422 pohon untuk setiap satu orang di planet Bumi.

Peneliti menggunakan citra satelit, inventarisasi hutan dan teknologi superkomputer untuk menghitung jumlah pohon di Bumi. Perkiraan baru ditemukan sekitar 7,5 kali lebih banyak pohon dari yang terhitung dalam penilaian sebelumnya. Apakah manusia sudah sadar akan pentingnya penghijauan? Mudah-mudahan!

Para peneliti juga menggunakan proyeksi peta hutan, yang disediakan oleh Program Lingkungan Hidup PBB, untuk memperkirakan berapa banyak penebangan pohon yang telah terjadi dari waktu ke waktu. Mereka menemukan bahwa jumlah pohon di Bumi telah menurun mendekati 50% sejak peradaban dimulai.

"Pohon adalah salah satu organisme yang paling penting keberadaannya di Bumi, namun walaupun jumlahnya masih sangat banyak, ini masih tidak cukup," kata pemimpin penulis studi Thomas Crowther, postdoctoral fellow di Yale School of Forestry & Environmental Studies di New Haven, Connecticut.

Sensus pohon akan membantu para ilmuwan agar lebih memahami distribusi spesies hewan dan tumbuhan di dunia, dampak perubahan iklim, dan bagaimana pohon tumbuh pada lingkungan sekitar mereka. Selain itu, temuan bisa membantu para ilmuwan mempelajari peran pohon dalam siklus karbon global.

Hutan menyerap dan menyimpan karbon dioksida dari atmosfer selama fotosintesis dan kemudian menghasilkan dan melepaskan oksigen untuk manusia bernafas. Dengan demikian, pohon memainkan peran kunci dalam mengurangi efek gas rumah kaca di atmosfer.

Studi ini juga menemukan bahwa daerah dengan jumlah pohon terbanyak adalah di daerah sub-arktik Rusia, Skandinavia dan Amerika Utara. Namun, daerah berhutan terbesar, bagaimanapun, terletak di daerah tropis, yang menjadi 43% jumlah pohon di Bumi.

Aktivitas manusia adalah alasan utama hilangnya 50% populasi pohon, terutama melalui deforestasi, perubahan penggunaan lahan dan praktek pengelolaan hutan. Menurut para ilmuwan, aktivitas ini berkontribusi pada hilangnya 15 miliar pohon di seluruh Bumi setiap tahun.

"Manusia sudah kehilangan setengah dari seluruh jumlah pohon di planetnya, dan dampak pada iklim serta kesehatan manusia adalah imbasnya, we truly deserve it." kata Crowther.

Tulisan ini diolah dari hasil studi yang dipublikasikan pada 2 September 2015 di jurnal Nature.

3 September 2015

Kehadiran Teknologi Asli Milik NASA pada Film 'The Martian'

Potongan scene pada film 'The Martian' yang tayang di bioskop Amerika pada Oktober 2015. Kredit: 20th Century Fox
Info Astronomy - Film fiksi ilmiah "The Martian," yang akan tayang perdana di bioskop Amerika pada bulan Oktober 2015 mendatang, bakal menceritakan astronot Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon) terdampar sendirian, dan diduga tewas, di Planet Merah.

Watney harus mencari cara untuk bertahan hidup di planet yang tidak ramah bagi manusia tersebut, dan ia harus berusaha memberitahu NASA di Bumi bahwa ia masih hidup sehingga misi penyelamatan dirinya dapat dilakukan. Untungnya, Watney adalah seorang insinyur dan tahu bagaimana beradaptasi dengan teknologi sesuai kebutuhannya.

Tapi berapa banyak dari teknologi yang dimiliki Watney sebenarnya ada saat ini, atau harus ada dalam waktu dekat? Simak ulasan ini untuk mengetahui hadirnya teknologi asli miliki NASA yang sedang dikembangkan sebagai bagian dari upaya untuk mendaratkan manusia di Mars secara nyata pada tahun 2030-an.

1. Habitat Manusia di Mars
Tempat tinggal manusia di Mars pada film 'The Martian'. Kredit: 20th Century Fox
Dalam film "The Martian," Watney menggunakan tempat tinggal atau habitat khusus untuk melakukan percobaan ilmiah dan hal-hal lain di Planet Merah. Tempat tinggal juga berfungsi sebagai tempat perlindungan diri dari lingkungan Mars yang ekstrim.


NASA belum rampung membangun habitat asli untuk manusia di Mars, tapi NASA sudah melakukan simulasi di Human Exploration Research Analog di Johnson Space Center, Houston. Tempat tinggal pada film "The Martian" menggunakan prototipe dari rancangan NASA.

2. Perkebunan di Mars
Mark Watney sedang menanan kentang di perternakan mini di Mars. Kredit: 20th Century Fox
Watney, pada film "The Martian," memiliki masalah gizi di Mars yang ia mencoba untuk dipecahkan dengan menumbuhkan banyak kentang di habitat buatan NASA.


Di luar angkasa, astronot Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) saat ini mulai menanam tanaman. Baru-baru ini astronot di ISS berhasil memanen selada pertama, yang dimaksudkan untuk membantu NASA memelajari bagaimana membangun dan memelihara perkebunan luar Bumi.

3. Pasokan Air Bersih
Astronot NASA, Kevin Ford, bermain air di ISS pada tahun 2013. Kredit: NASA
Watney juga menghadapi masalah untuk menghemat air di Mars. Tantangan yang sama menghadapi astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional, yang mendaur ulang air seni serta keringat untuk air minum dan keperluan lainnya. Untuk misi masa depan, NASA sedang mencoba untuk memperbaiki sistem filtrasi sehingga astronot akan lebih mudah mendapatkan air bersih di luar Bumi.

4. Oksigen
Astronot Doug Wheelock dengan Sabatier, alat produksi oksigen di ISS. 2010. Kredit: NASA
Watney memperoleh oksigen di Planet Merah pada film "The Martian" menggunakan instrumen yang disebut "oxygenator," yang menciptakan oksigen dari karbon dioksida yang digunakan oleh generator bahan bakar kendaraan penjelajah Mars.


Astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional saat ini menggunakan instrumen oksigen generasi pertama yang membagi molekul air menjadi hidrogen dan oksigen. Oksigen mengalir ke seluruh ruangan di ISS untuk bernafas, sementara hidrogen digunakan untuk memproduksi air.

5. Baju Antariksa Mars
Watney dengan baju antariksa Mars-nya pada film "The Martian". Kredit: 20th Century Fox
Watney menghabiskan banyak waktunya di Mars untuk memperbaiki habitatnya dan melakukan beberapa perjalanan di luar habitat pada film "The Martian" dengan baju antariksa Mars yang canggih.


NASA sedang mengembangkan teknologi baju antariksa canggih tersebut yang nantinya memang akan dipakai manusia di Mars. Nama baju antariksanya adalah, Z-2. Baju antariksa Z-2 ini nantinya dapat mengoptimalkan kinerja tubuh dan menjaga agar tubuh astronot tidak terkena radiasi berbahaya di Mars.

6. Mobil Penjelajah Mars
Mobil penjelajah Mars yang digunakan Watney pada "The Martian". Kredit: 20th Century Fox
Pada film "The Martian," di Mars, Watney memiliki mobil penjelajah yang dirancang untuk berkendara di Mars serta melakukan serangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


NASA sendiri merupakan perancang mobil penjelajah enam roda tersebut, yang mereka namai Multi-Mission Space Exploration Vehicle (MMSEV). Mobil yang cukup fleksibel untuk bekerja di lingkungan gravitasi lemah di Mars.

7. Propulsi Ion
NASA's Evolutionary Xenon Thruster (NEXT). Kredit: NASA
Watney dan kru lainnya menumpangi pesawat antariksa bernama Hermes yang menggunakan propulsi ion untuk berpergian dari Bumi ke Mars dan sebaliknya. Sistem propulsi ion menggunakan molekul gas seperti argon atau xenon, yang mampu mempercepat pesawat antariksa Hermes pada kecepatan tinggi.

NASA telah menggunakan propulsi ion dalam misi di kehidupan nyata untuk wahana antariksa Dawn, yang saat ini mengorbit planet kerdil Ceres. NASA saat ini sedang merancang NASA's Evolutionary Xenon Thruster (NEXT) untuk bahan bakar pesawat yang akan dipakai pada 2030-an pada misi manusia ke Mars.

8. Tenaga Surya
Panel surya pada Stasiun Luar Angkasa Internasional. Kredit: NASA
Watney memiliki panel surya lebih dari yang ia butuhkan di Mars, dan ia memutuskan untuk menggunakan beberapa dari mereka untuk tujuan yang tidak konvensional untuk membantu dia bertahan hidup. NASA telah menggunakan panel surya pada banyak wahana antariksa dan robot penjelajah mereka selama bertahun-tahun, dan bahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional memiliki empat set panel surya.

9. Tenaga Nuklir
Robot Curiosity di Mars, yang digerakan dengan tenaga nuklir. Kredit: NASA, JPL-Caltech
Mobil penjelajah pada film "The Martian" disematkan generator radioisotop termoelektrik (RTG), yang mengubah panas dari peluruhan radioaktif plutonium-238 menjadi listrik. Sementara itu, NASA telah menggunakan RTG pada berbagai misi mereka, termasuk misi Apollo ke Bulan, robot penjelajah Curiosity serta wahana antariksa New Horizons.

Persediaan plutonium-238 NASA sempat berkurang karena U.S. Department of Energy (DOE) berhenti memproduksinya pada tahun 1988 dan impor terakhir dari Rusia datang pada tahun 2010. Namun, DOE baru-baru ini kembali memproduksi plutonium-238 dan akan membuat 3,3 lbs. (1,5 kilogram) setiap tahunnya dalam waktu dekat.

Jadi, makin tidak sabar untuk menonton film "The Martian"? Bagi Anda yang suka membaca, mungkin pernah membaca novel dengan judul yang sama karya Andy Weir. Yup, film ini merupakan adaptasi dari novel tersebut!

Galaksi Elips: Jenis Galaksi Paling Laik Huni di Semesta

Galaksi elips SDSS J162702.56+432833.9 diperkirakan dihuni oleh kehidupan yang kompleks. Kredit: NASA, ESA, wikimedia
Info Astronomy - Pencarian kehidupan di luar Bumi menjadi salah satu tugas yang penting bagi manusia. Namun, alam semesta begitu luas dan kita tidak benar-benar mengetahui di mana kehidupan luar Bumi berada. Tapi, bagaimana kalau kita menargetkan pencarian?

Para ilmuwan telah merancang "cosmobiological" untuk model pemetaan galaksi di alam semesta untuk pertama kalinya agar membantu kita memahami mana galaksi yang laik huni dan mana yang tidak laik huni. Anehnya, setelah studi yang dilakukan, galaksi kita sendiri (Bima Sakti) bukan salah satu kandidat galaksi laik huni.

Materi Kelaikhunian
Menggambarkan pemahaman kita tentang zona laik huni pada galaksi, para ilmuwan mengusulkan bahwa kelaikhunian galaksi apapun tergantung pada tiga kriteria kunci astrofisika.

Salah satunya adalah, hanya sejumlah bintang di alam semesta yang diorbiti planet, yang diperkirakan terkait dengan ukuran galaksi induk mereka. Yang kedua adalah kandungan seperti karbon, oksigen dan zat besi dalam sebuah galaksi, yang dalam astrofisika disebut "logam". Dan ketiga adalah, pengaruh negatif dari ledakan supernova, yang kuat (dan beracun) radiasi berpotensi menghambat pembentukan dan evolusi kehidupan.

Ketiga kriteria kunci di atas telah dilakukan Sloan Digital Sky Survey untuk mengumpulkan data dengan sambil mengamati lebih dari 150.000 galaksi terdekat Bima Sakti di alam semesta. Data mereka menunjukkan bahwa galaksi raksasa memiliki jumlah logam terbesar.

Sementara itu, pada data yang sama, ditemukan bahwa galaksi elips, yang memiliki bentuk bulat (bukan spiral seperti Bima Sakti kita), ditetapkan sebagai jenis galaksi paling laik huni di alam semesta.

Setiap galaksi elips memiliki ukuran dua kali lebih besar dari galaksi spiral seperti Bima Sakti dan memiliki sepersepuluh lebih banyak dari tingkat intensitas ledakan supernova yang berpotensi menciptakan 10.000 kali lebih banyak planet yang mungkin bisa dihuni (seperti Bumi).

Studi ini telah dipublikasikan pada Astrophysical Journal Letters.

Robot Curiotisy Temukan Sendok Melayang di Permukaan Planet Mars

Struktur seperti sendok yang melayang di permukaan Mars. Kredit: NASA, JPL-Caltech
Info Astronomy - Struktur tikus, iguana, sosok wanita hingga piramida telah ditemukan di permukaan Planet Mars sejauh ini. Dan sekarang yang terbaru adalah... sendok melayang.

Kasus pareidolia terbaru di Mars kembali muncul.

Struktur sendok melayang itu pertama kali ditemukan oleh anggota "bermata elang" dari forum UnmannedSpaceflight.com dari citra yang dipotret oleh Robot Penjelajah Curiosity pada 30 Agustus 2015, yang berada di permukaan planet Mars.

Mereka yang percaya ada peradaban kuno atau peradaban maju di Mars menggunakan struktur sendok melayang ini sebagai bukti adanya peradaban tersebut. Namun, struktur batuan aneh tersebut hanya pareidolia, yakni suatu fenomena psikologis yang menyebabkan pikiran memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Contoh umum termasuk melihat gambar binatang atau wajah-wajah di awan, pria di Bulan atau kelinci Bulan, dan pendengaran pesan tersembunyi di rekaman yang dimainkan secara terbalik.

Apa yang menakjubkan tentang "sendok" ini adalah ia tampak hampir tidak tertambat ke tanah. Sulit untuk membayangkan fitur serupa di Bumi. Dengan ujung sendok yang berat dan pegangan kecil, sesuatu seperti itu pasti akan menyebabkannya jatuh.

Tapi sebenarnya "sendok" Mars ini hanya tonjolan yang keluar dari batuan Mars yang mungkin disebabkan oleh erosi angin. Menurut Discovery, atmosfer tipis Mars, ditambah dengan tarikan gravitasi yang lemah, membuat angin di permukaan Mars dapat membuat struktur batuan yang lebih rumit dan tidak biasa daripada batuan di Bumi.
 
Back To Top