Peristiwa Astronomis

Lainnya »

Ulasan Menarik

Lainnya »

Pilihan Editor

Lainnya »

Artikel Terkini

4 Maret 2015

R136a1, Bintang Dengan Massa Terberat yang Diketahui Saat Ini

R136a1, Bintang Dengan Massa Terberat yang Diketahui Saat Ini
Perbandingan bintang katai merah, Matahari, katai biru dan R136a1. Kredit: Wikimedia Commons
Info Astronomy - Sekelompok astronom asal Inggris berhasil mendeteksi sebuah bintang yang memiliki massa terberat yang pernah ditemukan manusia. Bintang raksasa itu memiliki massa 265 kali lipat lebih besar dibanding massa Matahari kita.

Saking beratnya, bintang itu dapat mengubah teori tentang bagaimana proses lahirnya bintang. Bahkan diperkirakan, saat lahir ia sudah mencapai ukuran 320 kali ukuran Matahari.

Menggunakan model yang digunakan oleh peneliti, diketahui bahwa ukuran maksimal bintang adalah 150 kali lipat dibanding Matahari kita. Apapun yang berukuran di atas itu terlalu sulit untuk terbentuk menjadi bintang.

Namun, Paul Crowther, astronom asal University of Sheffield, Inggris, setelah mengamati gambar-gambar yang ditangkap oleh Very Large Telescope di Chile dan teleskop ruang angkasa Hubble, menemukan bintang yang melampaui ukuran maksimal itu.

Selain jauh lebih besar dibanding Matahari, R136a1 adalah bintang yang jaraknya 165 ribu tahun cahaya dari Bumi dan bintang ini juga setara terangnya dengan 10 juta buah Matahari kita.

“Sebagai gambaran, perbandingan cahaya antara bintang ini dengan Matahari di tata surya kita adalah seperti membandingkan sinar Matahari dengan Bulan purnama,” kata Crowther.

Diperkirakan, suhu di permukaan bintang itu mencapai sekitar 50 ribu derajat Celsius, hampir delapan kali lebih panas dibanding Maharari.

Crowther menyebutkan, hal yang lebih penting dari penemuan bintang raksasa itu adalah memberikan keyakinan pada manusia bahwa kemungkinan besar masih ada bintang-bintang sangat raksasa seperti R136a1 di jagat raya.

Fakta Menarik

Bagaimana kita bisa tahu kalau bintang R136a1 merupakan bintang terberat padahal kita tidak pernah menimbangnya dengan timbangan super raksasa?

Pada dasarnya tidak ada alat yang bisa digunakan untuk secara langsung mengukur massa sebuah obyek di langit. Massa suatu benda langit hanya dapat ditentukan dari pengaruh gravitasinya pada benda langit lainnya, yaitu dari gerak orbitnya. Contohnya adalah massa Matahari yang dapat ditentukan dengan mengamati gerak orbit planet. Dan untuk penentuan massa bintang, secara umum hanya dapat ditentukan bila bintang itu merupakan komponen bintang ganda.

Untuk menentukan massa bintang, Hukum Kepler ketiga dapat diterapkan dalam gerak kedua bintang di bintang ganda.

Berdasarkan Hukum Kepler ketiga, kuadrat kala edar obyek yang mengorbit Matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata si obyek dari matahari. Dan hubungan Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Kepler ketiga bisa memberikan massa total kedua bintang dalam sistem bintang ganda dalam hubungan :

(m1 + m2) =  (d1 + d2)3 /P2

dengan (d1 + d2) = R
P = periode orbit ; m1 dan m2 = massa kedua bintang ; R = total jarak separasi antara kedua bintang dengan pusat massa. Hubungan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui massa komponen bintang ganda itu.

Bagaimana dengan bintang tunggal?
Dengan diketahuinya sistem keplanetan di bintang-bintang lain, penerapan Hukum Kepler ketiga dapat digunakan untuk mengetahui massa bintang induk sistem tersebut.

Untuk bintang tunggal, diagram Hertsprung Russel juga bisa digunakan sebagai faktor penentu massa. Untuk bintang di Deret Utama, sifat-sifatnya memiliki keterkaitan yang erat dengan massanya.
Massa bintang menentukan berapa lama ia akan berada di deret utama. Semakin besar massa sebuah bintang, maka semakin boros pula ia menguras hidrogennya sehingga umurnya akan lebih singkat.
Dengan mengetahui luminositas atau temperatur sebuah bintang maka kita bisa menentukan massanya. Di deret utama, luminositas sebuah bintang sebanding dengan pangkat 3,5 massa sebuah bintang.
Referensi: Earthsky.org, Langitselatan.com, science.nasa.gov

Dua Titik Terang Misterius Terlihat di Ceres, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Dua Titik Terang Misterius Terlihat di Ceres, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Planet katai Ceres dengan dua titik terang misterius. Kredit: NASA, ESA
Info Astronomy - Ceres, mungkin terdengar asing bagi orang awam, ia adalah satu-satunya planet katai di Tata Surya Dalam. Ceres merupakan benda langit berbatu dan ber-es dengan diameter sebesar 950 km dan merupakan planet katai terkecil yang pernah ditemukan.

Ada yang menarik di Ceres belakangan ini, yakni ditemukannya sebuah fitur kawah selebar 90 km yang memiliki dua titik terang.

"Titik-titik terang ini sangat mengejutkan dan telah membingungkan para anggota tim dan semua orang yang memelajari Ceres," kata Carol Raymond, Deputy Principal Investigator. "Tim benar-benar bersemangat dengan fitur ini karena dianggap unik di tata surya kita."

Raymond menambahkan bahwa tim akan mengungkapkan apa sebenarnya titik misterius tersebut dalam waktu dekat.

Jadi apa sebenarnya titik terang tersebut? Apakah alien sedang ber-api unggun di sana?

Pertama, menurut Raymond, dua titik terang tersebut terdapat bahan atau material yang sangat reflektif yang mungkin mengandung es atau garam.

Raymond menambahkan bahwa jika fitur terang ini pada akhirnya bakal menjadi air cair, garam kemungkinan besar merupakan elemen yang akan menjaga air dari pembekuan.

Kedua, Raymond mengatakan jika titik terang ini berasal dari sebuah benda di sana yang memantulkan cahaya, cahaya Matahari tentunya, jadi bukan menciptakan cahaya.

Terakhir, dua titik terang ini kemungkinan berasal dari uap air yang berasal dari dua wilayah longitudal di Ceres dan bukti saat ini adalah adanya penguapan atau sublimasi dari es.

Tim memperkirakan bahwa ada sekitar 6 kg uap air yang diproduksi per detiknya pada permukaan planet katai Ceres!

Menurut Anda, apa atau dari mana asal dua titik misterius tersebut?

3 Maret 2015

Bisakah Kita Mengenali Lubang Hitam?

Bisakah Kita Mengenali Lubang Hitam?
Kredit: Info Astronomy
Info Astronomy - Mungkin tidak ada objek astronomi yang sepopuler lubang hitam (black hole). Di dalam arena diskusi dengan masyarakat luas di setiap kesempatan, pertanyaan mengenai objek eksotik yang satu ini seakan tidak pernah lupa untuk dilontarkan.

Siapa sangka, istilah yang pertama kali diberikan oleh John Archibald Wheeler pada 1969 sebagai ganti nama yang terlalu panjang, yaitu completely gravitational collapsed stars, ini menjadi sedemikian akrab di kalangan awam sekalipun?

Konsep lubang hitam pertama kali diajukan oleh seorang matematikawan-astronom berkebangsaan Jerman, Karl Schwarzschild, pada tahun 1916 sebagai solusi eksak dari persamaan medan Einstein (Relativitas Umum).

Penyelesaian berupa persamaan diferensial orde dua nonlinear --yang dihasilkan Schwarzschild hanya dengan bantuan pensil dan kertas kala itu-- sangat memikat Einstein.

Pasalnya, relativitas umum yang bentuk finalnya telah dipaparkan Einstein di Akademi Prusia pada 25 November 1915, oleh penemunya sendiri "hanya" berhasil dipecahkan dengan penyelesaian pendekatan. Bahkan dalam perkiraan Einstein, tidak akan mungkin menemukan solusi eksak dari persamaan medan temuannya tersebut.

Istilah lubang hitam sendiri menggambarkan kondisi kelengkungan ruang-waktu di sekitar benda bermassa dengan medan gravitasi yang sangat kuat. Menurut teori relativitas umum, kehadiran massa akan mendistorsi ruang dan waktu.

Dalam bahasa yang sederhana, kehadiran massa akan melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya. Ilustrasi yang umum digunakan untuk mensimulasikan kelengkungan ruang di sekitar benda bermassa dalam relativitas umum adalah dengan menggunakan lembaran karet sangat elastis untuk mendeskripsikan ruang 3 dimensi ke dalam ruang 2 dimensi.

Bila kita mencoba menggelindingkan sebuah bola pingpong di atas hamparan lembaran karet tersebut, bola akan bergerak lurus dengan hanya memberi sedikit tekanan pada lembaran karet.

Sebaliknya, bila kita letakkan bola biliar yang massanya lebih besar (masif) dibandingkan bola pingpong, akan kita dapati lembaran karet melengkung dengan cekungan di pusat yang ditempati oleh bola biliar tersebut.

Semakin masif bola yang kita gunakan, akan semakin besar tekanan yang diberikan dan semakin dalam pula cekungan pusat yang dihasilkan pada lembaran karet.

Sudah menjadi pengetahuan publik bila gerak Bumi dan planet-planet lain dalam tata surya mengorbit Matahari sebagai buah kerja dari gaya gravitasi, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Isaac Newton pada tahun 1687 dalam Principia Mathematica-nya.

Melalui persamaan matematika yang menjelaskan hubungan antara kelengkungan ruang dan distribusi massa di dalamnya, Einstein ingin memberikan gambaran tentang gravitasi yang berbeda dengan pendahulunya tersebut.

Bila sekarang kita menggulirkan bola yang lebih ringan di sekitar bola yang masif pada lembaran karet di atas, kita menjumpai bahwa bola yang ringan tidak lagi mengikuti lintasan lurus sebagaimana yang seharusnya, melainkan mengikuti kelengkungan ruang yang terbentuk di sekitar bola yang lebih masif.

Cekungan yang dibentuk telah berhasil "menangkap" benda bergerak lainnya sehingga mengorbit benda pusat yang lebih masif tersebut. Inilah deskripsi yang sama sekali baru tentang penjelasan gerak mengorbitnya planet-planet di sekitar Matahari a la relativitas umum.

Dalam kasus lain bila benda bergerak menuju ke pusat cekungan, benda tersebut tentu akan tertarik ke arah benda pusat. Ini juga memberi penjelasan tentang fenomena jatuhnya meteoroid ke Matahari, Bumi, atau planet-planet lainnya.

Radius kritis
Melalui persamaan matematisnya yang berlaku untuk sembarang benda berbentuk bola sebagai solusi eksak atas persamaan medan Einstein, Schwarzschild menemukan bahwa terdapat suatu kondisi kritis yang hanya bergantung pada massa benda tersebut.

Bila jari-jari benda tersebut (bintang misalnya) mencapai suatu harga tertentu, ternyata kelengkungan ruang-waktu menjadi sedemikian besarnya sehingga tak ada satupun yang dapat lepas dari permukaan benda tersebut, tak terkecuali cahaya yang memiliki kelajuan 300.000 kilometer per detik!

Jari-jari kritis tersebut sekarang disebut Jari-jari Schwarzschild, sementara bintang masif yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna seperti itu, untuk pertama kalinya dikenal dengan istilah lubang hitam dalam pertemuan fisika ruang angkasa di New York pada tahun 1969.

Untuk menjadi lubang hitam, menurut persamaan Schwarzschild, Matahari kita yang berjari-jari sekira 700.000 kilometer harus dimampatkan hingga berjari-jari hanya 3 kilometer saja.

Sayangnya, bagi banyak ilmuwan kala itu, hasil yang diperoleh Schwarzschild dipandang tidak lebih sebagai sebuah permainan matematis tanpa kehadiran makna fisis. Einstein termasuk yang beranggapan demikian.

Akan terbukti belakangan, keadaan ekstrem yang ditunjukkan oleh persamaan Schwarzschild sekaligus model yang diajukan fisikawan Amerika Robert Oppenheimer beserta mahasiswanya, Hartland Snyder, pada 1939 yang berangkat dari perhitungan Schwarzschild berhasil ditunjukkan dalam sebuah simulasi komputer.

Kelahiran lubang hitam
Bagaimana proses fisika hingga terbentuknya lubang hitam? Bagi mahasiswa tingkat sarjana di Departemen Astronomi, mereka mempelajari topik ini di dalam perkuliahan evolusi Bintang.

Waktu yang diperlukan kumpulan materi antarbintang (sebagian besar hidrogen) hingga menjadi "bintang baru" yang disebut sebagai bintang deret utama (main sequence star), bergantung pada massa cikal bakal bintang tersebut.

Makin besar massanya, makin singkat pula waktu yang diperlukan untuk menjadi bintang deret utama. Energi yang dimiliki "calon" bintang ini semata-mata berasal dari pengerutan gravitasi. Karena pengerutan gravitasi inilah temperatur di pusat bakal bintang menjadi meninggi.

Dari mana bintang-bintang mendapatkan energi untuk menghasilkan kalor dan radiasi, pertama kali dipaparkan oleh astronom Inggris Sir Arthur Stanley Eddington.

Sir Eddington juga yang pernah memimpin ekspedisi gerhana Matahari total ke Pulau Principe di lepas pantai Afrika pada 29 Mei 1919 untuk membuktikan ramalan teori relativitas umum tentang pembelokan cahaya bintang di dekat Matahari.

Meskipun demikian, fisikawan nuklir Hans Bethe-lah yang pada tahun 1938 berhasil menjelaskan bahwa reaksi fusi nuklir (penggabungan inti-inti atom) di pusat bintang dapat menghasilkan energi yang besar.

Pada temperatur puluhan juta Kelvin, inti-inti hidrogen (materi pembentuk bintang) mulai bereaksi membentuk inti helium. Energi yang dibangkitkan oleh reaksi nuklir ini membuat tekanan radiasi di dalam bintang dapat menahan pengerutan yang terjadi.

Bintang pun kemudian berada dalam kesetimbangan hidrostatik dan akan bersinar terang dalam waktu jutaan bahkan milyaran tahun ke depan bergantung pada massa awal yang dimilikinya.

Semakin besar massa awal bintang, semakin cepat laju pembangkitan energinya sehingga semakin singkat pula waktu yang diperlukan untuk menghabiskan pasokan bahan bakar nuklirnya. Manakala bahan bakar tersebut habis, tidak akan ada lagi yang mengimbangi gravitasi, sehingga bintang pun mengalami keruntuhan kembali.

Nasib akhir sebuah bintang ditentukan oleh kandungan massa awalnya. Artinya, tidak semua bintang akan mengakhiri hidupnya sebagai lubang hitam.

Untuk bintang-bintang seukuran massa Matahari kita, paling jauh akan menjadi bintang katai putih (white dwarf) dengan jari-jari lebih kecil daripada semula, namun dengan kerapatan mencapai 100 hingga 1000 kilogram tiap centimeter kubiknya!

Tekanan elektron terdegenerasi akan menahan keruntuhan lebih lanjut sehingga bintang kembali setimbang. Karena tidak ada lagi sumber energi di pusat bintang, bintang katai putih selanjutnya akan mendingin menjadi bintang katai gelap (black dwarf).

Untuk bintang-bintang dengan massa awal yang lebih besar, setelah bintang melontarkan bagian terluarnya akan tersisa bagian inti yang mampat.

Jika massa inti yang tersisa tersebut lebih besar daripada 1,4 kali massa Matahari (massa Matahari: 2x10 pangkat 30 kilogram), gravitasi akan mampu mengatasi tekanan elektron dan lebih lanjut memampatkan bintang hingga memaksa elektron bergabung dengan inti atom (proton) membentuk netron.

Bila massa yang dihasilkan ini kurang dari 3 kali massa Matahari, tekanan netron akan menghentikan pengerutan untuk menghasilkan bintang netron yang stabil dengan jari-jari hanya belasan kilometer saja.

Sebaliknya, bila massa yang dihasilkan pasca ledakan bintang lebih dari 3 kali massa Matahari, tidak ada yang bisa menahan pengerutan gravitasi.

Bintang akan mengalami keruntuhan gravitasi sempurna membentuk objek yang kita kenal sebagai lubang hitam. Bila bintang katai putih dapat dideteksi secara fotografik dan bintang netron dengan teleskop radio, lubang hitam tidak akan pernah dapat kita lihat secara langsung!

Mengenali lubang hitam
Bila memang lubang hitam tidak akan pernah bisa kita lihat secara langsung, lantas bagaimana kita bisa meyakini keberadaannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, John Wheeler sebagai tokoh yang mempopulerkan istilah lubang hitam, memiliki sebuah perumpamaan yang menarik.

Bayangkan Anda berada di sebuah pesta dansa di mana para pria mengenakan tuksedo hitam sementara para wanita bergaun putih panjang.

Mereka berdansa sambil berangkulan, dan karena redupnya penerangan di dalam ruangan, Anda hanya dapat melihat para wanita dalam balutan busana putih mereka. Nah, wanita itu ibarat bintang kasat mata sementara sang pria sebagai lubang hitamnya.

Meskipun Anda tidak melihat pasangan prianya, dari gerakan wanita tersebut Anda dapat merasa yakin bahwa ada sesuatu yang menahannya untuk tetap berada dalam "orbit dansa".

Demikianlah para astronom dalam mengenali keberadaan sebuah lubang hitam. Mereka menggunakan metode tak langsung melalui pengamatan bintang ganda yang beranggotakan bintang kasat mata dan sebuah objek tak tampak.

Beruntung, semesta menyediakan sampel bintang ganda dalam jumlah yang melimpah. Kenyataan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab bintang-bintang memang terbentuk dalam kelompok.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa di galaksi kita, Bima Sakti, terdapat banyak bintang yang merupakan anggota suatu gugus bintang ataupun asosiasi.

Telah disebutkan di atas bahwa medan gravitasi lubang hitam sangat kuat, jauh lebih kuat daripada bintang kompak lainnya seperti bintang “katai putih” maupun bintang netron. Dalam sebuah sistem bintang ganda berdekatan, objek yang lebih masif dapat menarik materi dari bintang pasangannya.

Demikian pula dengan lubang hitam. lubang hitam menarik materi dari bintang pasangan dan membentuk cakram akresi di sekitarnya (bayangkan sebuah donat yang pipih bentuknya). Bagian dalam dari cakram yang bergerak dengan kelajuan mendekati kelajuan cahaya, akan melepaskan energi potensial gravitasinya ketika jatuh ke dalam lubang hitam.

Energi yang sedemikian besar diubah menjadi kalor yang akan memanaskan molekul-molekul gas hingga akhirnya terpancar sinar-X dari cakram akresi tersebut. Sinar-X yang dihasilkan inilah yang digunakan oleh para astronom untuk mencurigai keberadaan sebuah lubang hitam dalam suatu sistem bintang ganda.

Untuk lebih meyakinkan bahwa bintang kompak tersebut benar-benar lubang hitam alih-alih bintang “katai putih” ataupun bintang netron, astronom menaksir massa objek tersebut dengan perangkat matematika yang disebut fungsi massa.

Bila diperoleh massa bintang kompak lebih dari 3 kali massa Matahari, besar kemungkinan objek tersebut adalah lubang hitam.

Disadur dari press rilis LIPI.

2 Maret 2015

Titan Berpotensi Menjadi Rumah Kedua Umat Manusia

Titan Berpotensi Menjadi Rumah Kedua Umat Manusia
Kredit: NASA. Didesain oleh: Info Astronomy
Info Astronomy - Para ilmuwan mengklaim telah menemukan 'pencerahan' mengenai tempat laik huni bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Tempat masa depan manusia ini berada di satelit alami (bulan) terbesar milik Planet Saturnus yaitu Titan.

Pencerahan tersebut muncul setelah ilmuwan dari Cornell University mengerjakan model penelitian Titan. Ilmuwan mengungkapkan, kalau kehidupan dapat berlangsung dengan bergantung pada metana cair, bukan oksigen. Metana memungkinkan dapat menumbuhkan metabolisme seperti yang terjadi di Bumi.

Seperti diketahui, Titan memiliki atmosfer yang padat dan satu-satunya objek selain Bumi, yang terbukti mempunyai cairan di permukaannya. Atmosfer Titan sebagian besar diisi oleh nitrogen, metana, dan etana.

"Kami bukan ahli biologi dan kami juga bukan astronom, tapi kami memiliki alat yang tepat. Mungkin itu akan membantu daripada datang dengan prasangka yang tidak seharusnya," ujar Paulette Clancy dilansir dari Daily Science Journal, Minggu, 1 Maret 2015.

Dalam model membran sel terhadap Titan rancangannya, para ilmuwan Cornell University mengemukakan senyawa nitrogen dapat berfungsi dalam metana cair dengan suhu -300 derajat farenheit. Artinya, hal itu memungkinkan Titan dapat dijadikan planet masa depan bagi makhluk hidup.

Sementara itu, Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah memproyeksikan untuk mengirimkan kapal selamnya ke Titan. Kapal selam itu nantinya akan menyelidiki danau yang dimiliki Titan, danau Kraken Mare, pada tahun 2040 mendatang.

Dari segi ukurannya, Titan ini memiliki diameter 50 persen lebih besar dari Bulan dan massanya lebih besar 80 persen dari satelit alami Bumi itu.

Siap bermigrasi?

Mau Kuliah di Jurusan Astronomi? Ini Reviewnya

Mau Kuliah di Jurusan Astronomi? Ini Reviewnya
ITB. Kredit: ITB
Info Astronomy - Astronomi itu merupakan ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit. Astronomi itu bukan astrologi, begitupun sebaliknya.

Kuliah jurusan Astronomi di Indonesia cuma ada di ITB (Institut Teknologi Bandung), bahkan merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.

Belajar apa di Astronomi?
Program Studi Astronomi menerapkan pengetahuan fisika pada objek di langit dan juga mempelajari struktur, sifat fisik serta evolusi alam semesta beserta isinya dan kosmologi guna menumbuhkan kesadaran luasnya jagat raya.

Jurusan Astronomi sendiri dibagi menjadi 3 bidang keahlian, yaitu Tata Surya, Fisika Bintang serta Galaksi dan Kosmologi.

Apa saja yang ada di Astronomi ITB?
Tidak perlu diragukan lagi, program studi ini memiliki fasilitas-fasilitas terkini, contohnya perpustakaan yang berlangganan buku maupun jurnal astronomi dan astrofisika terbaru dan mutakhir.

Pastinya sudah pernah dengar Bosscha, kan? Nah, Bosscha ini merupakan salah satu fasilitas milik Astronomi ITB.

Penelitian observasi disini sendiri punya banyak alat-alat canggih meliputi berbagai jenis teleskop, peralatan tambahan kamera CCD, spektograf dan fotometer.

Program Studi Astronomi ITB saat ini memiliki 17 staf pengajar yang terdiri dari: 7 doktor, 4 Doctor of Science, 1 Ph.D dan 5 Master of Science.

Bagaimana sih kuliah Astronomi ITB?
Perkuliahan Astronomi tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Ada juga kegiatan praktikum di laboratorium yang mencakup perolehan data seperti kegiatan pengamatan, pemrosesan data, dan pekerjaan komputasional untuk keperluan analisa dan statistika.

Selain itu, pastinya pengamatan di Bosscha bikin kegiatan perkuliahan makin seru karena bisa sekalian liburan di Lembang

Bagaimana cara bisa kuliah di Astronomi ITB?
Astronomi di ITB masuk FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), jadi nanti saat SNMPTN pilih FMIPA ITB.

Setelah itu, kuliah secara umum selama setahun, kemudian ada kuisioner untuk penentuan jurusan. Pilih astronomi jika kamu pengen ke astronomi.

Walaupun masuk FMIPA, tapi ruang perkuliahan anak-anak astronomi masuk ke FTI (Fakultas Teknik Industri).

Kalau lulus, kerja apa?
Pertama, jangan berpikiran kalau lulus jurusan astronomi jadi astronot, dan berpikiran jalan-jalan ke planet Mars, hang out ke galaksi Andromeda, atau memakai cincin Saturnus.

Sarjana Astronomi bisa bekerja sebagai astronom, tenaga peneliti dan pengembangan, pendidik, tenaga di industri jasa dan manufaktur yang berhubungan dengan teknologi informasi, tenaga jurnalistik dan wirausaha.

Banyak lulusan Astronomi ITB yang bekerja di berbagai perusahaan asing dan mulitnasional seperti LAPAN, BPPT, PTDI dan bahkan NASA (Lembaga Antariksa AS).

Namun, gambaran umum di atas tidaklah membatasi lulusan baik sains maupun teknik hendak menggeluti profesi apa setelah lulus.

Sampai bertemu di Astronomi ITB!

"Yang tidak ada batasnya ada dua: Alam Semesta dan Kebodohan." - Albert Einstein

Join our newsletter!

Dapatkan artikel astronomi ke email Anda. Gratis dan Aman!

Info Astronomy © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com