Artikel Terkini

20 November 2014

GALERI: Foto-foto dari Permukaan Komet Churyumov Gerasimenko

Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko dipotret dari orbitnya oleh Rosetta. Kredit: ESA
Info Astronomy - Hari ini (19/11), tepat sepekan sejak berhasilnya wahana antariksa Philae mendarat di permukaan Komet 67P/Churyumov Gerasimenko.

Philae mendarat dengan selamat pada 12 November 2014 pukul 23:03 WIB, beritanya heboh di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, walaupun tidak terlalu heboh di negara ini.

Philae 'dijatuhkan' ke Komet 67P oleh induknya, wahana antariksa Rosetta, untuk memelajari komet tersebut. Ia mengirimkan beberapa foto ke Bumi setelah peluncurannya.

Berikut ini foto-foto terbaiknya:

Bukit-bukit di Komet 67P. Kredit: ESA
Gunung di Komet 67P. Kredit: ESA
Gunung lancip di Komet 67P. Kredit: ESA
Perbukitan di Komet 67P. Kredit: ESA
Jurang di Komet 67P. Kredit: ESA
For your information, Philae dan Rosetta merupakan wahana antariksa milik Agensi Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) yang diluncurkan pada tahun 2004 silam.

Kini Philae sedang melakukan hibernasi (dinon-aktifkan) untuk menghemat daya baterainya hingga ia (bersama komet 67P) mendekati Matahari pada pertengahan tahun 2015 mendatang.

19 November 2014

Penjelasan Lengkap Mengenai Bintang



Info Astronomy — Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah: Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya.

Sejarah Pengamatan

Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender Matahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari.

Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali ‘bintang-bintang baru’ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah Matahari-matahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya, ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah Matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley.

Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.

William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.

Radiasi

Tenaga yang dihasilkan oleh bintang, sebagai hasil samping dari reaksi fusi nuklir, dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagai angin bintang (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatan listrik seperti proton bebas, partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terluar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang.

Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Matahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya, yang terentang dari panjang gelombang radio hingga sinar gamma. Namun tidak semua rentang panjang gelombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. Hanya gelombang radio dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan oleh atmosfer Bumi dan menciptakan ‘jendela radio’ dan ‘jendela optik’. Teleskop-teleskop luar angkasa telah diluncurkan untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain.

Banyaknya radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintang dipengaruhi terutama oleh luas permukaan, suhu dan komposisi kimia dari bagian luar (fotosfer) bintang tersebut. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang, karena apa yang terjadi di permukaan pastilah sangat dipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam.

Dengan menelaah spektrum bintang, astronom dapat menentukan temperatur permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi dari sebuah bintang. Jika jarak bisa ditentukan, misal dengan metode paralaks, maka luminositas bintang dapat diturunkan. Massa, radius, gravitasi permukaan, dan periode rotasi kemudian dapat diperkirakan dari pemodelan. Massa bintang dapat juga diukur secara langsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing. Pada akhirnya astronom dapat memperkirakan umur sebuah bintang dari parameter-parameter di atas.

Fluks pancaran

Kuantitas yang pertama kali langsung dapat ditentukan dari pengamatan sebuah bintang adalah fluks pancarannya, yaitu jumlah cahaya atau tenaga yang diterima permukaan kolektor (mata atau teleskop) per satuan luas per satuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam satuan watt per cm2 (satuan internasional) atau erg per detik per cm2 (satuan cgs).

Luminositas

Di dalam astronomi, luminositas adalah jumlah cahaya atau energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang ke segala arah per satuan waktu. Biasanya satuan luminositas dinyatakan dalam watt (satuan internasional), erg per detik (satuan cgs) atau luminositas Matahari. Dengan menganggap bahwa bintang adalah sebuah benda hitam sempurna, maka luminositasnya adalah,
L = 4 \pi R^2 \sigma T_{e}^4
dimana L adalah luminositas, σ adalah tetapan Stefan-Boltzmann, R adalah jari-jari bintang dan Te adalah temperatur efektif bintang.
Jika jarak bintang dapat diketahui, misalnya dengan menggunakan metode paralaks, luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan
E = \frac {L} {4 \pi d^2}
dengan E adalah fluks pancaran, L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat.

Magnitudo

Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo. Kecerahan bintang yang kita amati, baik menggunakan mata bugil maupun teleskop, dinyatakan oleh magnitudo tampak (m) atau magnitudo semu. Secara tradisi magnitudo semu bintang yang dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6, di mana satu ialah bintang paling cerah, dan 6 sebagai bintang paling redup. Terdapat juga kecerahan yang diukur secara mutlak, yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M), dan terentang antara +26.0 sampai -26.5. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks pancaran, yang terhubungkan melalui persamaan,
m = -2,5 \log(E) + konstanta \,\!
di mana m adalah magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran.

Satuan Pengukuran

Kebanyakan parameter-parameter bintang dinyatakan dalam satuan SI, tetapi satuan cgs kadang-kadang digunakan (misalnya luminositas dinyatakan dalam satuan erg per detik). Penggunaan satuan cgs lebih bersifat tradisi daripada sebuah konvensi. Seringkali pula massa, luminositas dan jari-jari bintang dinyatakan dalam satuan Matahari, mengingat Matahari adalah bintang yang paling banyak dipelajari dan diketahui parameter-parameter fisisnya. Untuk Matahari, parameter-parameter berikut diketahui:
massa Matahari: M_\bigodot = 1.9891 \times 10^{30} kg
luminositas Matahari: L_\bigodot = 3.827 \times 10^{26} watt
radius Matahari: R_\bigodot = 6.960 \times 10^{8} m
Skala panjang seperti setengah sumbu besar dari sebuah orbit sistem bintang ganda seringkali dinyatakan dalam satuan astronomi (AU = astronomical unit), yaitu jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari.

Klasifikasi

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.
Kelas Warna Suhu Permukaan °C Contoh
O Biru > 25,000 Spica
B Putih-Biru 11.000 - 25.000 Rigel
A Putih 7.500 - 11.000 Sirius
F Putih-Kuning 6.000 - 7.500 Procyon A
G Kuning 5.000 - 6.000 Matahari
K Jingga 3.500 - 5.000 Arcturus
M Merah <3,500 Betelgeuse
Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :
  • 0 Maha maha raksasa
  • I Maharaksasa
  • II Raksasa-raksasa terang
  • III Raksasa
  • IV Sub-raksasa
  • V deret utama (katai)
  • VI sub-katai
  • VII katai putih
Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.
Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

Penampakan dan Distribusi

Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Diameter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop optik landas Bumi, hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperoleh citranya. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adalah R Doradus, dengan 0,057 detik busur.

Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kelas O dan B, dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang ganda atau pun multi bintang. Semakin redup bintang, semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang berada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Karena 85% populasi bintang di galaksi Bimasakti adalah katai merah, maka tampaknya kebanyakan bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal.

Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. Bintang-bintang tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta, tetapi terkelompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati.

Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7×1022) bintang di seluruh alam semesta yang teramati. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang, atau 230 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar.

Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, berjarak 39.9 triliun (1012) kilometer, atau 4.2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola, atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi.

Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jarang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi, tumbukan dapat sering terjadi . Tumbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bintang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan luminositas yang sama. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel.

Terbentuknya Bintang

Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali Matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.

Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.

Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama. 

Deret Utama

Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fusi yang menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di intinya. Pada fase ini bintang dikatakan berada dalam deret utama dan disebut sebagai bintang katai. 

Akhir sebuah bintang

Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis, teras bintang mengecil dan membebaskan banyak panas dan memanaskan lapisan luar bintang. Lapisan luar bintang yang masih banyak hidrogen mengembang dan bertukar warna merah dan disebut bintang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran Matahari sebelum membentuk bintang kerdil putih. Sekiranya bintang tersebut berukuran lebih besar dari matahari, bintang tersebut akan membentuk superraksaksa merah. Superraksaksa merah ini kemudiannya membentuk Nova atau Supernova dan kemudiannya membentuk bintang neutron atau Lubang hitam. [wikipedia]

18 November 2014

Apa Itu Worm Hole? Apakah Ada di Alam Semesta?

Apa Itu Worm Hole? Apakah Ada di Alam Semesta?
Ilustrasi sederhana dari wormhole. Kredit: NASA
Info Astronomy - Secara teori memang benar wormhole alias lubang cacing ini merupakan solusi matematis mengenai hubungan geometris antara satu titik dalam ruang-waktu dengan titik yang lain, di mana hubungan tersebut bisa berperilaku sebagai ‘jalan pintas’ dalam ruang-waktu.

Tapi, sampai saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung keberadaannya, baik dari pengamatan maupun secara eksperimen.

Lantas, apa itu lubang cacing (wormhole)?

Penulis menyukai ilustrasi yang digunakan Dr. Kip S. Thorne dari California Institute of Technology untuk menjelaskan apa itu wormhole.

Ilustrasinya seperti ini: bayangkan Anda adalah seekor semut yang tinggal di permukaan sebuah apel. Apel tersebut digantung di langit-langit dengan menggunakan tali yang sangat tipis sehingga tidak bisa Anda panjat.

Anda tidak bisa pergi kemana-mana selain di permukaan apel. Permukaan apel itu menjadi alam semestamu. Nah, sekarang bayangkan apel itu berlubang dimakan ulat. Lubangnya menembus si buah apel.

Dengan adanya lubang itu, kamu bisa berpindah ke sisi lain permukaan apel dengan dua cara, yaitu: lewat jalan biasa, yaitu permukaan apel (alam semesta), atau lewat jalan pintas, yaitu lubang yang sudah dibuat si ulat (wormhole).

Wormhole memiliki dua ujung. Misalnya, satu ujung di kamar Anda, ujung yang lain ada di negara asal teman Twitter Anda di Manchester, Inggris.

Kalau kamu melongok ke wormhole itu, maka akan tampak teman Anda dengan latar belakang Stadion Old Trafford.

Teman Anda yang melihat dari ujung wormhole di Inggris lalu bisa melihat Anda duduk sambil menonton televisi di kamar Anda.

Asyik, ya, kalau selesai nonton televisi, Anda bisa menemui kawan Anda di Inggris dan ikut dia menonton pertandingan Manchester United di Stadion Old Trafford, hanya dengan masuk ke semacam lorong.

Alam semesta kita ini mengikuti hukum fisika. Yang namanya hukum pasti ada yang dibolehkan tapi ada yang tidak.

Nah, apakah hukum fisika memungkinkan adanya wormhole? Ya! Sayangnya, masih menuruti hukum fisika tadi, wormhole mudah runtuh sehingga tak ada yang bakal selamat melewatinya.

Supaya tidak runtuh, kita harus memasukkan materi yang berenergi negatif, yang mengeluarkan semacam gaya anti-gravitasi yang mampu menahan wormhole dari keruntuhan.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apakah ada materi berenergi negatif? Jawaban yang diberikan oleh para fisikawan yang telah mengupas hukum-hukum fisika secara mendetil dengan menggunakan ilmu matematika adalah ada!

Namun keberadaannya hanya sesaat dan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Andaikan ada insinyur hebat yang ingin mempertahankan wormhole tidak runtuh. Masih belum mungkin juga ia mengumpulkan energi negatif di dalam wormhole sejumlah yang diperlukan supaya wormhole itu bisa dilalui.

Seandainya pun hukum fisika memungkinkan adanya wormhole, kemungkinan besar wormhole tidak terjadi secara alami, tapi harus dibuat dan dijaga supaya tidak runtuh dengan suatu teknologi tertentu.

Teknologi kita saat ini masih sangat jauh dari itu. Teknologi wormhole masih sulit, seperti halnya pesawat ruang angkasa bagi manusia purba.

Tapi, sekalinya teknologi wormhole ini bisa dikuasai, ia akan menjadi sarana praktis untuk transportasi antarbintang. Ini menjadi tantangan bagi kita dan generasi berikutnya, termasuk kalian.

Referensi: Langitselatan.com

16 November 2014

Singularitas: Titik Alam Semesta

Singularitas: Titik Alam Semesta
Ilustrasi. Kredit: Universe Today
Info Astronomy - Menakjubkan! Alam semesta yang maha luas dan selalu bertambah luas (khususnya pada saat ini) bermula dari suatu "gumpalan", di mana semua materi lumat dalam kerapatan tak hingga.

Dapatkah dibayangkan, berapa besar kerapatan materi dalam sebuah "titik" yang volumenya nol, jika seluruh massa alam semesta yang terdiri dari sekitar 100 milyar kali 100 milyar bintang yang massa tiap-tiap bintang sebesar kira-kira massa matahari dalam tata surya kita dipaksakan masuk ke dalamnya?

Titik ini dalam kajian kosmologi, yakni bahasan alam semesta skala besar, disebut singularitas. Materi yang sekian banyak tersebut berkumpul menjadi neutron (partikel netral, tak bermuatan listrik).

Sebab, elektron-elektron (partikel bermuatan listrik negatif) yang berasal dari masing-masing atom telah "menyatu" dengan proton (partikel bermuatan listrik positif) "pasangan"-nya dalam atom.

Keberadaan alam semesta dari "gumpalan maha padat" yang mempunyai interaksi gravitasi (interaksi gravitasi disebabkan oleh adanya massa) yang luar biasa besar, memiliki efek remasan yang juga luar biasa besar sehingga gumpalan alam semesta mengkerut, berukuran lebih kecil dari bintang pulsar yang berjejari sekitar dua hingga tiga kali jari-jari matahari.

Bahkan gumpalan ini mengkerut sehingga ia berukuran lebih kecil dari Lubang Hitam (Black Hole), memiliki massa jauh lebih besar dibandingkan dengan massa pulsar dan terus mengkerut hingga berjejari mendekati ukuran titik.

Menurut Prof. Baiquni dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), alam semesta yang berawal dari "ketiadaan" sebagai guncangan vakum yang membuatnya memiliki energi yang sangat tinggi dalam singularitas bertekanan negatif.

Vakum yang mempunyai kandungan energi luar biasa besar dan tekanan gravitasi negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif yang luar biasa besar keluar dari singularitas.

Seiring dengan mengembangnya alam semesta, materi dan radiasi di alam semesta menjadi semakin dingin. Karena suhu merupakan ukuran energi rerata (atau kelajuan rerata) partikel, pendinginan semesta memiliki pengaruh terhadap materi yang dikandungnya.

Ketika alam semesta mendingin, karena ekspansi yang super cepat, suhunya merendah melewati 1.000 trilyun-trilyun derajat (coba bandingkan, misal, dengan suhu reaksi fusi di matahari yang "hanya" sekitar 5.500 derajat celcius), pada umur 10 pangkat minus 35 detik, terjadilah gejala 'lewat dingin'.

Pada saat pengembunan tersentak, keluarlah materi dari bentuk energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1.000 trilyun-trilyun (1 dengan 27 nol dibelakangnya) derajat.

Namun, seluruh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10 pangkat minus 32 detik. Ekspansi alam semesta yang luar biasa, menggelembung dengan tiupan dahsyat yang dikenal sebagai gejala inflasi.

Selama proses inflasi ini, terdapat kemungkinan tak hanya satu alam saja yang muncul, tetapi beberapa alam, berapa jumlahnya? Dan masing-masing alam dapat memiliki hukum-hukumnya sendiri yang tidak perlu sama dengan hukum alam semesta yang kita tempati.

Karena materialisasi dari energi yang tersedia yang pada akhirnya berakibat terhentinya inflasi tak terjadi secara serentak, maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos.

Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini? Saat umum alam semesta mendekati seperseratus detik, isinya adalah radiasi dan partikel-partikel subnuklir. Pada saat itu, suhu kosmos sekitar 100 milyar derajat celcius.

Campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat serta bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai "fluida" daripada zat padat, sehingga kosmolog menamainya "sop kosmos".

Antara umur satu detik hingga tiga menit terjadi proses yang dinamai proses nukleosintesis (proses penggabungan inti-inti atom). Dalam periode ini, inti atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil rekasi fusi nuklir.

Saat, setelah umur alam semesta mencapai 700.000 tahun, elektron-elektron masuk dalam orbit mereka di sekitar inti dan bersama-sama inti membentuk atom sembil melepaskan energi radiasi; pada saat itu seluruh langit bercahaya terang-benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diamati sebagai radiasi gelombang mikro.

Menurut perhitungan para ilmuwan kosmologi, alam semesta mempunyai sekitar sepuluh dimensi; yaitu, empat dimensi ruang-waktu yang kita hayati, dan enam dimensi lainnya yang tak kita sadari.

Hal tersebut karena "tergulung" dengan jari-jari 10 pangkat minus 32 sentimeter yang berujud sebagai muatan listrik dan muatan nuklir.

Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang, katakanlah, "terentang" sebagai ruang-waktu.

Jika semua yang telah dirintis secara matematika ini memperoleh dukungan dari hasil ekperimen atau observasi, maka ada kemungkinan bahwa alam semesta yang kita huni ini mempunyai "dunia kembaran" (shadow world) yang sebenarnya keberadaannya di sekeliling kita, ia hanya dapat kita hubungi melalui medan gravitasi.

Menarik. Yup, alam semesta memang selalu menarik untuk dipelajari.

15 November 2014

Hujan Meteor Leonid Siap Hiasi Langit Indonesia!

Hujan Meteor Leonid Siap Hiasi Langit Indonesia!
Hujan meteor. Kredit: Caters News Agency
Info Astronomy - Sebuah peristiwa jatuhnya meteor-meteor yang lumrah disebut hujan meteor akan menghiasi langit seluruh dunia termasuk Indonesia pada Senin dinihari, 17 November 2014.

Inilah hujan meteor Leonid. Hujan meteor yang bertitik radian di rasi bintang Leo. Saat terbaik untuk mengamatinya adalah mulai pukul 3:00 dinihari waktu setempat, saat rasi bintang Leo baru terbit di langit Timur.

Meteor pada hujan meteor tercipta dari puing-puing (debris) dari sebuah komet yang mengorbit Matahari sekali setiap tiga abad.

Orbit Bumi memotong jejak debu komet setiap November. Beberapa debris tersebut menyusup ke atmosfer pada kecepatan puluhan ribu kilometer per jam. Mereka terbakar di atmosfer, dan disebutlah sebagai meteor.

Karena jumlah debris tersebut tidak hanya satu, melainkan banyak sekali, maka meteor-meteor ini disebut hujan meteor. Tenang, meteor panas ini akan terbakar habis di atmosfer sebelum mencium permukaan Bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Leonid bukan hanya disebut hujan meteor, melainkan badai meteor! Contohnya pada tahun 1966, hujan meteor Leonid menciptakan 50 meteor per detiknya di langit Bumi.

Sayangnya, tahun 2014 ini peristiwa hujan meteor akan terganggu oleh Bulan yang berada di rasi bintang Leo. Cahaya Bulan akan sedikit menutupi atau menghilangkan meteor redup yang seharusnya terlihat jika tidak ada Bulan.

Anda dapat melihat hujan meteor Leonid ini di manapun Anda berada di Indonesia. Cukup dengan mata telanjang. Penggunakan teleskop saat pengamatan hujan meteor sangat tidak dianjurkan oleh astronom di belahan dunia manapun.

Ikuti live-report hujan meteor Leonid di akun Twitter @infoAstronomy pada Senin, 17 November 2014 pukul 3:00 WIB - Subuh.

14 November 2014

Bulan dan Jupiter Bakal "Kencan" Sabtu (15/11) Dinihari, Ini Cara Melihatnya

Bulan dan Jupiter Bakal "Kencan" Sabtu (15/11) Dinihari, Ini Cara Melihatnya
Letak Bulan dan Jupiter pada Sabtu (15/11) dinihari. Kredit: Stellarium
Info Astronomy - Pemandangan menarik bakal tersaji pada Sabtu (15/11) dinihari hingga menjelang Matahari terbit.

Bulan dan planet terbesar di tata surya kita, Jupiter, bakal berkonjungsi --bahasa sederhananya, bersebelahan-- di langit Bumi.

Bulan berada dalam fase Separuh Akhir (Last Quarter) sedangkan Jupiter dalam fase full atau penuh. Tentu saja, untuk melihat Jupiter mesti menggunakan teleskop.

Jika diamati dengan mata saja, Planet Jupiter hanya akan nampak bagai titik kuning keputihan yang berada di sebelah Bulan seperti pada gambar di atas.

Untuk mengamati keduanya, dibutuhkan langit yang cerah, atau setidaknya tidak ada awan. Keduanya dapat diamati mulai pukul 1:00 dinihari waktu setempat daerah Anda.

Bisa diamati di seluruh Indonesia dengan atau tanpa alat bantu. Keduanya dapat diamati hingga menjelang Matahari terbit di hari yang sama.

Selamat mengamati!

10 November 2014

Wahana Antariksa Gaia Menemukan 70.000 Planet Luar Surya Baru

Wahana Antariksa Gaia Menemukan 70.000 Planet Luar Surya Baru
Ilustrasi wahana antariksa Gaia di luar angkasa. Kredit: ESA
Info Astronomy - Sebuah wahana antariksa milik Eropa yang diluncurkan akhir tahun lalu akhirnya bisa menemukan 70.000 planet luar surya dan membantu para peneliti lebih memahami jumlah dan karakteristik dunia asing di seluruh galaksi.

"Ini bukan hanya tentang angka. Masing-masing planet ini akan menyampaikan beberapa rincian yang sangat spesifik, dan banyak yang akan sangat menarik dengan cara mereka sendiri," kata Michael Perryman dari Princeton University dalam sebuah pernyataan.

"Jika Anda melihat planet-planet yang telah ditemukan sampai sekarang, mereka menempati wilayah yang sangat spesifik. Gaia tidak hanya akan menemukan daftar seluruh planet, tetapi di daerah yang belum benar-benar dieksplorasi sejauh ini."

Dunia asing pertama di sekitar bintang seperti Matahari terlihat pada tahun 1995. Sejak itu, para astronom telah menemukan hampir 2.000 planet luar surya, dengan setengah dari penemuan dilakukan oleh teleskop antariksa Kepler milik NASA.

Tapi ada banyak lagi planet di luar sana, menunggu untuk ditemukan. Para astronom berpikir bahwa, rata-rata, setiap bintang di Bima Sakti setidaknya memiliki satu planet yang mengorbitnya, yang berarti Bima Sakti memiliki sekitar 100 miliar planet di dalamnya.

Wahana antariksa Gaia ditempatkan pada lokasi dengan gravitasi stabil yakni berjarak 1,5 juta kilometer dari Bumi. Tujuan utama misinya adalah untuk membuat katalog dan memonitor 1 miliar bintang di Bima Sakti, membantu peneliti menciptakan peta 3D yang menjelaskan struktur galaksi dan evolusinya.

Studi baru ini telah diterima untuk publikasi dalam The Astrophysical Journal dan tersedia sekarang di situs arXiv.

Eropa Siap Bikin Sejarah Pendaratan Pertama di sebuah Komet

Eropa Siap Bikin Sejarah Pendaratan Pertama di sebuah Komet
Ilustrasi wahana Philae saat akan mendarat di sebuah Komet. Kredit: ESA
Info Astronomy - Para ilmuwan, astronom profesional maupun yang amatir sedang menunggu hari Rabu (12/11) pekan ini, ketika wahana antariksa Rosetta milik Agensi Antariksa Eropa (ESA) akan melakukan pendaratan di sebuah komet.

Bukan Rosetta yang mendarat, melainkan Philae (baca: fee-lay). Philae akan diterjunkan dari Rosetta untuk mendarat di Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko pada tanggal 12 November 2014 pada 22:35 WIB.

Kita semua yang berada di Bumi berjarak kurang lebih 500 juta kilometer dari komet tersebut. Dengan begitu, kita tidak akan tahu Philae sudah berhasil mendarat atau belum hingga sinyal diterima sekitar pukul 23:02 WIB (12/11).

Jika semua berjalan sesuai rencana, ini akan menjadi prestasi yang mengagumkan! Sekadar informasi, komet dan Rosetta bergerak melintasi antariksa pada kecepatan 60.000 per jam.

Lokasi pendaratan --yang sebelumnya dikenal hanya sebagai J Site-- sekarang memiliki nama resmi. Sudah diberi nama Agilkia, dipilih setelah kompetisi esai dari ESA.

Nama Agilkia mengacu pada sebuah pulau di Sungai Nil. Dalam sejarahnya, ada sebuah bangunan kuno yang dipindahkan ke pulau Agilkia setelah pulau Philae banjir besar.

Lokasi pendaratan Philae. Kredit: ESA
Setelah berhasil mendarat nantinya pada tanggal 12 November 2014, Philae akan mengambil gambar pertama yang pernah diambil dari permukaan komet.

Philae juga akan mengebor ke permukaan komet untuk mempelajari komposisi, dan menyaksikan secara dekat bagaimana perubahan komet yang bergerak semakin dekat ke Matahari.

Philae dapat tetap aktif di permukaan komet selama sekitar dua setengah hari. Induknya, Rosetta, akan tetap di orbit komet 67P hingga titik perihelion komet, atau titik terdekat komet dengan Matahari, pada bulan Juli 2015.

Selain komet merupakan objek kosmik yang indah, komet memberikan petunjuk penting tentang sejarah tata surya kita.

Komet dianggap objek primitif tata surya yang secara harfiah membeku dan mereka mungkin telah memainkan peran dalam "penyemaian" Bumi dengan air dan, mungkin, bahan dasar untuk kehidupan.

Rosetta diluncurkan pada bulan Maret 2004 dan menghabiskan 957 hari "hibernasi" untuk menghemat dayanya sebelum sampai di orbit komet 67P pada Agustus 2014.

"Yang tidak ada batasnya ada dua: Alam Semesta dan Kebodohan."

Dapatkan artikel astronomi ke email Anda!

Subscribe here to get our newsletter in your inbox, it is safe and EASY!

Info Astronomy © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com