Artikel Terkini

22 Desember 2014

Kenapa Luar Angkasa Berwarna Hitam?

Kenapa Luar Angkasa Berwarna Hitam?
Cincin Saturnus terlihat mencolok di hitamnya luar angkasa. Kredit: NASA/JPL/Space Science Institute
Info Astronomy - Anda mungkin bertanya-tanya, jika semua bintang bersinar, mengapa luar angkasa hitam?

Jawabannya adalah, bahwa di luar angkasa, sinar Matahari atau cahaya bintang lainnya tidak memiliki sesuatu atau instrumen untuk memantulkan cahaya di ruang hampa udara.

Kita melihat warna karena cahaya dipantulkan kembali ke mata kita. Biasanya jika sebuah objek dapat memantulkan kembali semua cahaya, yang kita lihat adalah warna putih.

Di Bumi fenomena ini adalah mengapa langit biru dan awan putih. Masing-masing memiliki warna yang unik karena bagaimana cahaya tersebar dan tercermin dari molekul di udara.

Hal ini tidak berlaku untuk luar angkasa. Karena luar angkasa adalah ruang vakum. Cahaya berjalan lurus sehingga jika tidak tercermin oleh benda-benda seperti planet dan satelit alami itu hanya "diserap" oleh luar angkasa.

Namun, dalam kasus ini, diserap artinya tidak tercermin ke mata kita.

Pada intinya, luar angkasa berwarna hitam karena sifat cahaya yang memancar tegak lurus. Luar angkasa menyerap cahaya tersebut sehingga tidak terpantul ke mata kita.

Wahana Antariksa Kepler Temukan Planet Luar Surya Pertama di Misi Barunya

Wahana Antariksa Kepler Temukan Planet Luar Surya Pertama di Misi Barunya
Ilustrasi wahana antariksa Kepler di luar angkasa. Kredit: NASA
Info Astronomy - Wahana antariksa pemburu planet milik NASA yang bernama Kepler berhasil melakukan penemuan planet luar surya pertama yang ditemukan dengan menggunakan misi baru --K2.

Penemuan itu dilakukan ketika para astronom dan ilmuwan merancang ulang tujuan Kepler untuk misi K2 dan melanjutkan pencarian planet luar surya lain di jagad raya.

Planet luar surya pertama dari temuan misi baru Kepler diberi kode nama HIP 116454b, memiliki diameter 2,5 kali lebih besar dari Bumi kita dan memiliki periode orbit selama 9 hari. HIP 116454b dan bintangnya terletak sejauh 180 tahun cahaya dari Bumi, arah konstelasi Pisces.

Kepler mendeteksi planet-planet dengan metode transit, yakni ketika sebuah bintang yang jauh dari Bumi cahayanya sedikit meredup, hal tersebut disebabkan adanya sebuah planet yang melintas di depannya.

Semakin kecil planet tersebut, semakin kecil peredupan sebuah bintang, sehingga pengukuran kecerahan harus benar-benar tepat.

Untuk mengaktifkan presisi itu, Kepler harus stabil. Tapi pada Mei 2013, pengumpulan data selama perpanjangan misi utama Kepler berakhir karena rusaknya dua dari empat roda reaksi, yang digunakan untuk menstabilkan Kepler.

NASA akhirnya merancang misi K2, yang menjanjikan Kepler tidak hanya melanjutkan perburuan planet, tetapi juga akan mempermudah mengamati dan memelajari gugus bintang, galaksi aktif dan supernova.

Misi K2 telah resmi dimulai pada Mei 2014, dan telah berhasil mengamati lebih dari 35.000 bintang dan mengumpulkan data dari gugus bintang, daerah padat pembentuk bintang, dan beberapa planet dalam tata surya kita.

Makalah penelitian penemuan ini telah dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal.

21 Desember 2014

Bagaimana Alam Semesta Terbentuk?

Bagaimana Alam Semesta Terbentuk?
Sebagian kecil alam semesta. Kredit: NASA, ESA
Info Astronomy - Ketika mendengar kata "Alam semesta", yang pertama terlintas di pikiran kita mungkin saja adalah "Luas".

Yup, alam semesta kita amat sangat luar biasa luasnya, dan yang menarik adalah alam semesta terus berekspansi berbarengan dengan Anda yang membaca artikel ini.

Pertanyaanya, bagaimana alam semesta terbentu? Setidaknya, saat ini ada tiga teori pembentukan alam semesta yang dipercayai para astronom dunia.

Teori Steady State
Teori ini berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksi-galaksi, karena pengembungan alam yang berlangsung terus menerus digantikan oleh materi yang baru saja tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap  berada dalam keadaan tidak berubah (stady state).

Artinya bahwa materi secara terus-menerus tercipta di seluruh alam semesta. Teori ini sama sekali tidak menyebut peristiwa awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang.

Tidak ada awal maupun akhir karena materi diperbarui secara terus menerus di satu tempat sementara di tempat lain dihancurkan.
Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini berpendapat bahwa ada suatu siklus di jagat raya. Satu siklus mengalami satu masa ekspansi dan satu masa kontraksi.

Satu siklus diperkirakan berlangsung selama 30 milyar tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi serta bintang-bintang di dalamnya.

Ekspansi ini diakibatkan oleh adanya reaksi inti hidrogen yang pada akhirnya membentuk unsur-unsur lain yang kompleks.
Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang telah terbentuk meredup dan unsur-unsur yang telah terbentuk menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Disebut juga Oscillating Theory (teori mengembang dan memampat).

Teori Big–Bang
Keberadaan awal pada peristiwa besar ini melengkapi ketidaktahuan manusia tentang awal mula alam semesta dan merupakan bahan dari spekulasi sesungguhnya yang mempunyai dasar kuat.

Teori ini mengasumsikan sekitar 15 milyar tahun lalu dimulai dari ledakan yang dahyat dan dilanjutkan dengan pengambangan alam semesta. Point penting dari semua peristiwa ini adalah waktu, materi, energi dan ruang merupakan satu keterpaduan.

Kejadian ini bukan ledakan biasa tetapi cukup memenuhi semua peristiwa dari ruang dengan semua partikel yang menjadi embrio alam semesta yang mendesak keluar.

Big bang adalah teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta.

Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relativitas umum dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus.

Konsekuensi alami dari Teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam semesta punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi.

Teori Big-Bang juga dikenal teori Super Dense yang bunyinya seperti ini:
Alam semesta mengembang pada skala tertentu, maka ketika kita pergi kembali ke dalam waktu, kelompok-kelompok galaksi akan semakin mendekat dan tentu akan sampai pada suatu saat di mana semua materi, energi dan waktu yang membentuk alam semeseta terkonsentrasi pada suatu tempat dalam bentuk gumpalan yang sangat padat.

Dipostulasikan bahwa saat ini ledakan hebat (Big Bang) menyebabkan alam semesta mengembang 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 kali atau lebih dari ukuran aslinya.

Sebagai akibatnya gumpalan yang sangat padat dari materi dan energi berserakan menjadi banyak bagian yang semuanya berjalan dengan kecepatan berbeda-beda ke arah berbeda-beda pula.

Hasil dari ledakan ini berkondensasi membentuk benda-benda langit seperti yang ada sekarang. Pengembangan alam alam yang teramati ini merupakan kelanjutan dari proses ini. 

Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang.

Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. 

Kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big-bang.

Titik Balik Matahari Jatuh pada 22 Desember 2014

Ilustrasi titik balik Matahari (solstis Desember). Kredit: Wikimedia Commons
Info Astronomy - 22 Desember 2014 pukul 6:00 WIB akan menandai awal dari musim dingin di belahan Bumi Utara, dan musim panas di belahan Bumi Selatan.

Ini adalah hari dalam setiap tahunnya di mana Matahari melalui rasi bintang zodiak yang membawanya ke titik paling utara di langit, yakni di konstelasi Capricornus pada deklinasi 23,5° Selatan.

Pada hari itu, Matahari berada di atas cakrawala belahan Bumi Utara akan sangat sebentar, dan sebaliknya untuk di belahan Bumi Selatan.

Fenomena ini disebut Solstis Desember atau titik balik matahari Desember. Matahari akan muncul di atas kepala pada siang hari di Indonesia pada lintang 23,5° Selatan.

Dengan terjadinya Solstis Desember, musim hujan di Indonesia juga akan 'secara resmi' dimulai.

Fakta menarik
Setelah Solstis Desember, Kutub Utara tidak akan melihat Matahari terbit selama enam bulan ke depan. Sebaliknya, di Kutub Selatan akan disinari Matahari terus-menerus selama enam bulan ke depan.

18 Desember 2014

Rayakan Natal Bersama Komet Lovejoy

Rayakan Natal Bersama Komet Lovejoy
Komet C/2014 Q2 (Lovejoy). Kredit: Rolando Ligustri
Info Astronomy - Sesuatu dengan 'janggut' putih panjang akan muncul di langit arah Utara pekan ini. Mungkinkah Santa Claus?

Bukan, ia adalah sebuah komet! Para pengamat langit akan mendapatkan hadiah Natal dari jagad raya berupa komet. Sayangnya, komet ini harus diamati lewat teleskop dengan diameter 10×50 cm.

Bernama resmi C/2014 Q2 (Lovejoy), komet ini  akan mencapai pada titik terdekatnya dengan Matahari kita pada jarak 1,29 SA (1 SA=150 juta km, SA adalah Satuan Astronomi) pada tanggal 30 Januari 2015 mendatang.

Dari Jakarta & Sekitarnya, komet Lovejoy sudah bisa diamati sejak pukul 19:00 WIB saat senja di tanggal 25 Desember 2014. Ia akan berada pada 33° di atas cakrawala Barat Laut rumah Anda di rasi bintang Triangulum.

Komet Lovejoy ini ditemukan oleh pemburu komet amatir asal Australia bernama Terry Lovejoy. Ia menemukan komet yang dinamai dari namanya tersebut pada tanggal 17 Agustus 2014 dengan CELESTRON C-8 dilengkapi dengan kamera CCD di rumahnya di Brisbane, Australia.

Komet Lovejoy membutuhkan waktu sekitar 13.394 tahun untuk sekali mengitari Matahari. Dengan kata lain, ia akan muncul lagi 13.394 tahun dari sekarang!

Komet ini memiliki orbit elips cenderung tajam terhadap bidang Tata Surya (80,3°).

Untuk membantu pelacakan Anda terhadap komet ini, silakan kunjungi The Sky Live pada tautan ini.

Selamat berburu komet!

17 Desember 2014

Inilah Jadinya Jika Dua Galaksi Bertabrakan

Inilah Jadinya Jika Dua Galaksi Bertabrakan
Tabrakan galaksi. Kredit: NASA
Info Astronomy - Jika pada malam hari Anda pergi ke tempat yang jauh dari cahaya lampu kota, Anda akan melihat ribuan bintang berkelap-kelip.

Tiap bintang yang kita lihat itu merupakan bagian dari galaksi tempat tinggal kita, yaitu Galaksi Bima Sakti.

Di luar Galaksi Bima Sakti, miliaran galaksi membentang hingga ke tepi alam semesta. Masing-masing galaksi merupakan kumpulan jutaan bintang serta debu dan gas kosmik yang terikat bersama-sama oleh gravitasi.

Ada bermacam-macam galaksi; banyak galaksi yang berbentuk pipih berpilin (spiral), seperti misalnya Galaksi Bima Sakti.

Galaksi semacam ini sangatlah tipis dan seringkali terlihat mempunyai lengan spiral yang bergelung di sekeliling pusatnya yang menggembung. Galaksi spiral juga berputar sangat cepat bagai gasing raksasa.

Jumlah galaksi spiral yang begitu banyak menjadi misteri besar bagi para astronom. Piringan-piringan galaksi itu rapuh dan mudah dikacaukan oleh peristiwa dahsyat yang menghancurkan, misalnya tabrakan dengan galaksi lain.

Dalam masa hidupnya hampir semua galaksi akan menjadi korban tabrakan. Tabrakan itu bisa berarti dua galaksi saling menabrak, bentuknya berubah dan menimbulkan terjadinya kelahiran bintang secara besar-besaran.

Atau, bisa juga berarti kedua galaksi berpapasan dengan jarak sangat dekat dan tarikan gravitasi akan saling mempengaruhi keduanya.

Selama bertahun-tahun para astronom meyakini bahwa saat dua galaksi spiral yang besarnya hampir sama bertabrakan, keduanya akan melebur menjadi galaksi tipe lain, yaitu galaksi ellips yang berbentuk seperti bola rugby raksasa.

Akan tetapi, kalau dua galaksi spiral membentuk satu galaksi ellips, kenapa masih ada banyak galaksi spiral di alam semesta ini? Pertanyaan ini sudah bikin astronom tidak tidur sepanjang malam selama puluhan tahun!

Pekan lalu akhirnya mereka menemukan jawabannya. Bukti baru menunjukkan bahwa tabrakan itu kadang-kadang menciptakan galaksi spiral raksasa, bukan galaksi ellips. Mungkin itu sebabnya masih ada banyak galaksi spiral di alam semesta!

Fakta menarik
Dalam waktu empat miliar tahun dari sekarang Galaksi Bima Sakti akan bertabrakan dan melebur dengan galaksi tetangga terdekat yang berbentuk spiral, yaitu Galaksi Andromeda.


Disadur dari Press Rilis ESO, NAOJ.

15 Desember 2014

Perjalanan Waktu dan Teori Relativitas Einstein

Perjalanan Waktu dan Teori Relativitas Einstein
Ilustrasi dilasi waktu. Kredit: Red Orbit
Info Astronomy - Anda pasti pernah menonton film Back to the Future, Looper, Star Trek, atau yang terbaru Interstellar, di mana Anda akan melihat adegan perjalanan waktu.

Apakah mesin waktu itu mungkin? Bagaimana bisa terjadi? Semua ini berawal dari teori relativitas yang dikemukakan oleh Albert Einstein.

Teori Relativitas

Teori relativitas adalah teori yang dikemukakan Albert Einstein yang terbagi atas 2 teori, yaitu relativitas umum dan relativitas khusus.

Relativitas khusus terdiri dari dua postulat: I. Hukum fisika dapat dinyatakan dalam persamaan yang berbentuk sama dalam semua kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan tetap satu sama lain.

Dan II. Cepat rambat cahaya di dalam ruang hampa ke segala arah adalah sama untuk semua pengamat, tidak tergantung pada gerak sumber cahaya maupun pengamat.

Apa maksud dari kedua postulat tersebut?
Coba Anda tanyakan pada diri sendiri bagaimana Anda menentukan apakah suatu objek bergerak atau tidak? Tentu karena anda melihat objek tertentu berpindah dari satu titik ke titik yang lain.

Sekarang coba Anda bayangkan jika di dunia ini hanya ada dua objek. Tidak ada lantai, dinding, langit, dan objek lainnya. Apakah Anda dapat menentukan objek mana yang bergerak dan objek mana yang diam? 

Jawabannya adalah tidak karena Anda tidak memiliki pedoman titik posisi objek tersebut.

Sekarang Anda coba bayangkan seandainya Anda memiliki saudara kembar. Anda di dalam pesawat dan saudara kembar Anda ada di permukaan Bumi.

Dari sudut pandang Anda, pesawatnya diam di satu tempat dan permukaan Bumi yang bergerak. Sedangkan dari sudut pandang saudara kembar Anda permukaan Bumi tetap diam dan pesawat dengan Anda di dalamnya yang bergerak.

Dan jika misalnya saudara kembar Anda berpindah ke Matahari, Bumi dan pesawat Anda yang terlihat bergerak (Ingat kalau Bumi itu berevolusi mengelilingi Matahari).

Kesimpulan dari contoh tersebut adalah kita tidak dapat mengetahui objek mana yang bergerak dan objek mana yang diam karena pernyataan tersebut berbeda-beda tergantung sudut pandang pengamat di mana pengamat selalu diam dan alam di sekitar yang bergerak mengelilinginya. Inilah pengertian dari postulat I.

Postulat II menyatakan bahwa di alam semesta ini hanya ada satu benda yang bergerak dengan kecepatan yang selalu sama. Benda tersebut adalah cahaya dengan kecepatan 300.000.000 meter per detik.

Coba Anda bayangkan lagi di antara pesawat Anda dan permukaan Bumi ada sebuah cermin yang selalu mengikuti kemanapun pesawat Anda pergi.

Jika Anda menembakkan laser ke arah cermin dan dipantulkan kembali ke pesawat, dari sudut pandang Anda laser tersebut terlihat bergerak lurus ke bawah ke arah cermin dan lurus kembali ke atas menuju pesawat.

Tetapi dari sudut pandang saudara kembar Anda laser tersebut tidak terlihat tegak lurus namun membentuk “V” karena saat pesawat menembak dan menerima kembali lasernya pesawat tersebut berada di dua posisi berbeda.

Disini letak keunikannya. Laser yang bergerak membentuk huruf “V” memiliki jalur yang lebih panjang dibanding laser yang bergerak tegak lurus.

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kecepatan cahaya selalu sama. Berarti dari sudut pandang saudara kembar Anda laser tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke pesawat dibandingkan sudut pandang Anda.

Dan jika Anda dan saudara kembar Anda sama-sama menggunakan jam untuk mengukur waktu perjalanan laser tersebut, jam anda akan menunjukkan waktu yang lebih singkat daripada jam saudara kembar Anda.

Artinya jam anda bergerak lebih lambat dari sudut pandang saudara kembar Anda. Dari sudut pandang anda kecepatan jam tetap sama. Perbedaan ini disebut dengan Time Dilation atau Dilasi Waktu.

Paradoks Kembar

Jika kecepatan pesawat semakin mendekati kecepatan cahaya, waktu di dalam pesawat akan berjalan semakin lambat.

Namun, Anda tidak akan merasakan hal itu karena selain waktu seluruh benda termasuk anda juga bergerak semakin lambat sehingga bagi Anda semuanya terlihat normal.

Dan lebih uniknya lagi, karena dari sudut pandang Anda Bumi dan sekitarnya yang bergerak, berarti jam saudara kembar anda akan terlihat lebih lambat dibanding jam Anda.

Jika kedua waktu pengamat sama-sama melambat, lalu waktu siapa yang sebenarnya berjalan lebih lambat? Inilah yang disebut dengan Twin Paradox atau Paradoks Kembar.

Penjelasan di atas sebelumnya hanya berlaku jika pesawat tersebut bergerak dengan kecepatan tetap. Namun jika pesawat mengubah kecepatan lain lagi ceritanya.

Jika Anda yang di dalam pesawat mempercepat kecepatan pesawat Anda, Anda akan terlempar ke belakang.

Dari sudut pandang Anda pesawat tetap diam, namun Bumi dan sekitarnya yang bergerak semakin cepat. Dari sudut pandang Anda juga hal ini bisa terjadi karena adanya medan gravitasi yang menyebabkan Bumi dan sekitarnya bergerak semakin cepat.

Tenaga yang ditembakkan roket saat Anda mempercepat laju pesawat berfungsi untuk menyeimbangkan posisi pesawat dari dorongan gravitasi agar pesawat tetap diam.

Medan gravitasi ini juga menyebabkan waktu berjalan lebih cepat di Bumi. Lalu apa hubungannya dengan twin paradox?

Anda yang mempercepat laju pesawat Anda saat memutar balik ke Bumi inilah yang mengakibatkan waktu di Bumi berjalan semakin cepat sehingga saat anda tiba di Bumi saudara Anda menjadi lebih tua daripada Anda. Persis seperti ilustrasi di atas.

Relativitas Umum
Sekarang akan dijelaskan mengenai teori relativitas Einstein yang kedua, yaitu relativitas umum. Pada tahun 1687, Isaac Newton menjelaskan adanya gaya gravitasi.

Namun, beliau tidak pernah tahu apa penyebab gaya gravitasi. Kemudian di tahun 1916 Einstein mempublikasikan teori relativitas umumnya yang menjelaskan bahwa gravitasi bukanlah gaya tarik menarik antar dua atau lebih objek yang bermassa.

Melainkan gravitasi adalah akibat dari kelengkungan yang dibentuk oleh massa objek terhadap ruang dan waktu atau disebut juga dengan ruang-waktu.

Apa itu ruang-waktu? Selama ini kita hanya mengenal 3 dimensi. Yaitu maju mundur, kiri kanan, dan atas bawah.

Tetapi sebenarnya masih ada dimensi ke-4, yaitu waktu. Ya, waktu adalah bagian dari dimensi.

Contohnya, jika Anda ingin bertemu rekan Anda di suatu tempat pada waktu pukul sekian, Anda telah melewati 3 dimensi yaitu bergerak maju atau mundur, belok ke kiri atau ke kanan, naik ke atas atau turun ke bawah dan anda juga telah melewati dimensi waktu yaitu waktu pukul sekian. Jika anda tidak melewati dimensi waktu tersebut anda tidak akan menemui rekan anda.

Menarik? Tentu.

Hujan Meteor Quadrantid Siap Menghiasi Langit saat Tahun Baru

Hujan meteor Quadrantid Januari 2014. Kredit: Steve Owen
Info Astronomy - Setelah hujan meteor Geminid pada 13-14 Desember 2014, selanjutnya langit malam akan dihiasi oleh hujan meteor Quadrantid.

Hujan meteor ini merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi mulai tanggal 31 Desember hingga 6 Januari, namun puncaknya adalah pada tanggal 4 Januari 2015 mendatang.

Apa sebab terjadinya hujan meteor Quadrantid?
Hujan meteor ini sudah diamati sejak 2 Januari 1825 oleh Antonio Brucalassi (Italia), akan tetapi penemuan tampaknya hujan meteor Quadrantid juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838.

Baru pada tahun 1839, hujan meteor ini diyakini merupakan hujan meteor tahunan ketika Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melakukan pengamatan. Dan akhirnya hujan meteor yang terjadi di awal Januari ini pun memperoleh nama Quadrantids.

Nama "Quadrantid" berasal dari konstelasi (rasi bintang) kuno yakni Quadrans Muralis yang ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes.

Konstelasi ini kemudian ditiadakan dari peta bintang bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 saat International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi yang dikenal untuk masuk dalam peta bintang modern.

Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes setelah Quadrans Muralis tiada, dan tetap mendapat nama Quadrantid karena hujan meteor lainnya di bulan Januari juga sudah dikenal sebagai hujan meteor Bootids.

Hujan meteor Quadrantid terjadi akibat Bumi melintasi puing-puing (debris) yang ditinggalkan asteroid 2003 EH1. Ketika debris berupa debu dan kerikil itu mengarah ke Bumi, atmosfer Bumi menahannya.

Upaya penahanan oleh atmosfer akan menyebabkan tekanan yang sangat besar pada bagian terdepan debu dan krikil tersebut. Akibatnya debris itupun akan memanas dan terbakar dengan cepat, membentuk apa yang kita kenal sebagai meteor.

Dengan gerakan meteor yang cepat dan datang dari arah yang tidak diketahui, maka meteor akan lebih mudah terlihat dengan mata telanjang.

Penggunaan binokuler apalagi teleskop akan mempersempit medan pandang pengamat, sehingga makin mempersulit pengamatan hujan meteor.

Bagaimana cara mengamatinya?
Hujan meteor Quadrantid paling baik diamati mulai pukul 2:00 dinihari waktu lokal daerah Anda hingga Matahari terbit pada tanggal 4 Januari 2015.

Mengapa mesti dinihari? Bagi pengamat di Indonesia, hujan meteor Quadrantid akan tampak dari arah timur laut dan ia akan tampak setelah tengah malam atau setelah rasi Bootes terbit jam 2.00 dinihari. Dalam peta bintang modern, Quadrantid akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco.

Rasi bintang Bootes dan letak munculnya hujan meteor Quadrantid. Kredit: Corona
Dengan posisi hanya berkisar 30 derajat, pengamat di Indonesia sebaiknya mencari lokasi yang area horison langitnya tidak tertutup gedung pohon dll. Selain itu dibutuhkan lokasi yang sangat gelap dan tidak terpengaruh polusi cahaya.

Selamat berburu meteor dan merayakan tahun baru!

Referensi:
Langit Selatan
Kalender Astronomi
NASA

"Yang tidak ada batasnya ada dua: Alam Semesta dan Kebodohan." - Albert Einstein

Join our newsletter!

Dapatkan artikel astronomi ke email Anda. Gratis dan Aman!

Info Astronomy © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com