Peristiwa Astronomis

Lainnya »

Ulasan Menarik

Lainnya »

Pilihan Editor

Lainnya »

Artikel Terkini

29 Maret 2015

Bulan & Planet Jupiter Kencan Malam Ini

Bulan & Planet Jupiter Kencan Malam Ini
Letak Bulan dan Planet Jupiter pada malam 29 Maret 2015. Kredit: Stellarium
Info Astronomy - Malam ini - 29 Maret 2015 - bagi Anda yang suka skygazing inilah kesempatan untuk mengamati Planet Jupiter yang bakal nampak bagai bintang paling terang di dekat Bulan.

Bulan dan Jupiter bakal "berkencan" di depan konstelasi Cancer, tidak jauh dari gugus bintang Beehive. Atau jika Anda tidak tahu letak konstelasi Cancer, Anda bisa langsung melihat Bulan di langit atas kepala sekitar pukul 19:00 waktu lokal.

Bulan dan Jupiter akan berada pada letak yang persis dengan ilustrasi di atas. Di Indonesia, kedekatan mereka ini sudah bisa diamati selepas Maghrib hingga tengah malam.

Anda perlu menggunakan teleskop untuk melihat Planet Jupiter. Jika diamati lewat mata tanpa bantuan teleskop, Jupiter hanya akan nampak bagai bintang dengan cahaya kuning yang tidak berkelap-kelip.

Mengapa Jupiter bisa bersinar padahal tidak menghasikan cahaya sendiri? Sebab ia memantulkan cahaya Matahari yang diterimanya ke mata Anda. Konsep yang sama seperti mengapa Bulan bersinar.

Fenomena yang dalam astronomis disebut konjungsi ini tidak akan menyebabkan bahaya atau awal bencana apapun. Ini adalah fenomena astronomis biasa yang hampir tiap bulan kalender terjadi.

Pastikan langit cerah dan bebas polusi saat Anda observasi malam ini. Selamat mengamati!

GALERI: Semarak 'Earth Hour' dari Berbagai Penjuru Dunia

Earth Hour. Kredit: WWF
Info Astronomy - Earth Hour digelar secara bergiliran pada 28 Maret 2015 ini. Pada acara tahunan ini, kita sebagai warga Bumi hanya diminta untuk mematikan lampu dan alat elektronik lainnya secara manual dengan kesadaran diri sendiri.

Earth Hour dilaksanakan tiap 1 jam sekali dalam setahun, yakni pada jam 20:30 hingga 21:30 waktu lokal. Dan sampai artikel ini dibuat, negara-negara di Benua Amerika masih atau baru mulai Earth Hour.

Info Astronomy berhasil mengumpulkan foto-foto perayaan hemat energi ala Earth Hour dari berbagai penjuru dunia. Berikut ini kumpulan fotonya:

1. Indonesia
Kredit: WWF 
2. Hong Kong
Kredit: WWF
 3. Belanda
Kredit: WWF
 4. India
Kredit: WWF
5. Swedia
Kredit: WWF
6. Malaysia
Kredit: WWF
7. Amerika Serikat
Kredit: WWF
8. Perancis
Kredit: WWF
9. Jerman
Kredit: WWF
10. Inggris
Kredit: WWF
Sampai jumpa di Earth Hour 2016!

25 Maret 2015

HARI INI 1655: Titan Ditemukan oleh Christiaan Huygens

HARI INI 1655: Titan Ditemukan oleh Christiaan Huygens
Titan
Info Astronomy - Titan (atau disebut juga Saturnus VI) adalah satelit alami terbesar milik Planet Saturnus. Satelit ini merupakan satu-satunya satelit alami yang memiliki atmosfer padat, dan satu-satunya objek selain Bumi yang terbukti memiliki cairan di permukaan.

Titan adalah satelit elipsoidal keenam dari Saturnus. Satelit ini seringkali digambarkan sebagai satelit yang mirip planet dan memiliki diameter yang 50% lebih besar dari Bulan, sementara massanya 80% lebih besar. Satelit ini merupakan satelit terbesar kedua di Tata Surya, setelah satelit Ganymede milik Jupiter, dan volumenya lebih besar daripada planet Merkurius.

Titan ditemukan pada tanggal 25 Maret 1655 oleh astrofisikawan Belanda Christiaan Huygens. Huygens terilhami oleh penemuan empat satelit terbesar Jupiter oleh Galileo pada tahun 1610 dan pemutakhiran teknologi teleskopnya.

Christiaan, dengan bantuan saudaranya Constantijn Huygens, Jr., mulai membangun teleskop sekitar tahun 1650. Christiaan Huygens menemukan satelit pertama yang mengorbit Saturnus dengan teleskop pertama yang mereka bangun.

Huygens dengan mudah menamai penemuannya Saturni Luna (atau Luna Saturni, dalam bahasa Latin berarti "bulan Saturnus"), dan menerbitkannya dalam risalahnya pada tahun 1655 yang berjudul De Saturni Luna Observatio Nova.

Setelah Giovanni Domenico Cassini menerbitkan penemuan empat satelit Saturnus lainnya antara tahun 1673 hingga 1686, astronom mulai terbiasa menamai satelit tersebut dan Titan dengan sebutan Saturnus I hingga V (dengan Titan pada posisi keempat).

Epitet lain yang awalnya digunakan adalah "satelit biasa Saturnus." Titan secara resmi dinomori Saturn VI karena setelah penemuan pada tahun 1789, skema penomoran dihentikan untuk menghindari kebingungan (Titan pernah diberi nomor II, IV, dan VI).

Nama "Titan" diusulkan oleh John Herschel (putra dari William Herschel, penemu Planet Uranus) dalam terbitan 1847nya Results of Astronomical Observations made at the Cape of Good Hope.

Nama tersebut berasal dari Titan (bahasa Yunani Kuno: Τῑτάν), yang dalam mitologi Yunani merupakan ras dewa-dewi yang kuat dan keturunan dari Gaia dan Uranus serta saudara kandung Kronos.

Titan mengorbit Saturnus setiap 15 hari 22 jam. Seperti satelit lainnya, periode rotasinya sama dengan periode orbitnya; Titan terkunci secara pasang surut dalam rotasi sinkron dengan Saturnus, sehingga salah satu permukaan Titan selalu menghadap planet Saturnus.

Akibatnya, terdapat titik sub-Saturnus di permukaannya, dan di situ Saturnus akan tampak seolah tergantung tepat di atas kepala. Garis bujur di Titan diukur ke arah barat dari meridian yang melewati titik ini.

24 Maret 2015

Musim Hujan Meteor Segera Tiba!

Salah satu meteor pada peristiwa hujan meteor di atas Gunung Bromo, Indonesia. Kredit: Justin Ng
Info Astronomy - Setelah terakhir kali hujan meteor Quadrantid pada pergantian tahun 2014 ke 2015 yang lalu, tidak ada lagi peristiwa hujan meteor yang menghiasi langit sepanjang Februari hingga Maret.

Namun, ada kabar baik bagi para pengamat langit. April ini akan menjadi awal dari "musim hujan meteor". Mengapa kami sebut demikian? Sebab dari April hingga Desember mendatang, setidaknya akan ada satu peristiwa hujan meteor per bulannya. Seru, kan?

Sebelum itu, sudah tahukah Anda apa itu hujan meteor? Apakah berbahaya? Tentu tidak sama sekali. Hujan meteor adalah fenomena astronomis yang terjadi ketika sejumlah meteor terlihat bersinar pada langit malam.

Meteor-meteor ini muncul dari serpihan benda luar angkasa yang dinamakan meteoroid, yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.

Ukuran meteor umumnya hanya sebesar sebutir pasir, dan hampir semuanya hancur sebelum mencapai permukaan Bumi. Serpihan yang mencapai permukaan Bumi disebut meteorit. Hujan meteor umumnya terjadi ketika Bumi melintasi dekat orbit sebuah komet dan melalui serpihannya.

Berikut ini adalah jadwal hujan meteor pada "musim hujan meteor" yang sudah Info Astronomy rangkum:

April
Hujan meteor Lyrid. Puncaknya pada 22 April. Muncul dari rasi bintang Lyra. 18 meteor/jam (ZHR).

Mei
Hujan meteor Eta Aquarid. Puncaknya 7 Mei. Muncul di rasi bintang Aquarius. 60 meteor/jam (ZHR).

Juni
Hujan meteor June Bootids. Puncaknya 27 Juni. Muncul di rasi bintang Bootes. 10 meteor/jam (ZHR).

Juli
Hujan meteor Delta Aquarid. Puncaknya 30 Juli. Muncul di rasi bintang Aquarius. 20 meteor/jam (ZHR).

Agustus
Hujan meteor Perseid. Puncaknya 13 Agustus. Muncul di rasi bintang Perseus. 100 meteor/jam (ZHR).

September
Hujan meteor Aurigid. Puncaknya 1 September. Muncul di rasi bintang Auriga. 10 meteor/jam (ZHR).

Oktober
Hujan meteor Orionid. Puncaknya 22 Oktober. Muncul di rasi bintang Orion. 20 meteor/jam (ZHR).

November
Hujan meteor Leonid. Puncaknya 18 November. Muncul di rasi bintang Leo. 15 meteor/jam (ZHR).

Desember
Hujan meteor Geminid. Puncaknya 13 Desember. Muncul di rasi bintang Gemini. 120 meteor/jam (ZHR).

Hujan meteor wajib diamati dengan mata telanjang. Jangan mengamati lewat teleskop, karena medan pandang teleskop justru akan memperkecil kesempatan Anda untuk melihat meteor.

Untuk mengamati peristiwa hujan meteor, direkomendasikan mengamatinya setelah tengah malam, atau Anda bisa bangun tidur pada sepertiga malam jika tidak kuat begadang.

Pastikan langit cerah tanpa awan dan Anda berada di wilayah yang langitnya bebas polusi cahaya maupun polusi udara, seperti di pedesaan atau pegunungan.

Selamat berburu meteor!

23 Maret 2015

Apa Itu Worm Hole? Apakah Ada di Alam Semesta?

Apa Itu Worm Hole? Apakah Ada di Alam Semesta?
Ilustrasi sederhana dari wormhole. Kredit: NASA
Info Astronomy - Secara teori memang benar wormhole alias lubang cacing ini merupakan solusi matematis mengenai hubungan geometris antara satu titik dalam ruang-waktu dengan titik yang lain, di mana hubungan tersebut bisa berperilaku sebagai ‘jalan pintas’ dalam ruang-waktu.

Tapi, sampai saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung keberadaannya, baik dari pengamatan maupun secara eksperimen.

Lantas, apa itu lubang cacing (wormhole)?

Penulis menyukai ilustrasi yang digunakan Dr. Kip S. Thorne dari California Institute of Technology untuk menjelaskan apa itu wormhole.

Ilustrasinya seperti ini: bayangkan Anda adalah seekor semut yang tinggal di permukaan sebuah apel. Apel tersebut digantung di langit-langit dengan menggunakan tali yang sangat tipis sehingga tidak bisa Anda panjat.

Anda tidak bisa pergi kemana-mana selain di permukaan apel. Permukaan apel itu menjadi alam semestamu. Nah, sekarang bayangkan apel itu berlubang dimakan ulat. Lubangnya menembus si buah apel.

Dengan adanya lubang itu, kamu bisa berpindah ke sisi lain permukaan apel dengan dua cara, yaitu: lewat jalan biasa, yaitu permukaan apel (alam semesta), atau lewat jalan pintas, yaitu lubang yang sudah dibuat si ulat (wormhole).

Wormhole memiliki dua ujung. Misalnya, satu ujung di kamar Anda, ujung yang lain ada di negara asal teman Twitter Anda di Manchester, Inggris.

Kalau kamu melongok ke wormhole itu, maka akan tampak teman Anda dengan latar belakang Stadion Old Trafford.

Teman Anda yang melihat dari ujung wormhole di Inggris lalu bisa melihat Anda duduk sambil menonton televisi di kamar Anda.

Asyik, ya, kalau selesai nonton televisi, Anda bisa menemui kawan Anda di Inggris dan ikut dia menonton pertandingan Manchester United di Stadion Old Trafford, hanya dengan masuk ke semacam lorong.

Alam semesta kita ini mengikuti hukum fisika. Yang namanya hukum pasti ada yang dibolehkan tapi ada yang tidak.

Nah, apakah hukum fisika memungkinkan adanya wormhole? Ya! Sayangnya, masih menuruti hukum fisika tadi, wormhole mudah runtuh sehingga tak ada yang bakal selamat melewatinya.

Supaya tidak runtuh, kita harus memasukkan materi yang berenergi negatif, yang mengeluarkan semacam gaya anti-gravitasi yang mampu menahan wormhole dari keruntuhan.

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apakah ada materi berenergi negatif? Jawaban yang diberikan oleh para fisikawan yang telah mengupas hukum-hukum fisika secara mendetil dengan menggunakan ilmu matematika adalah ada!

Namun keberadaannya hanya sesaat dan dalam jumlah yang sangat sedikit.

Andaikan ada insinyur hebat yang ingin mempertahankan wormhole tidak runtuh. Masih belum mungkin juga ia mengumpulkan energi negatif di dalam wormhole sejumlah yang diperlukan supaya wormhole itu bisa dilalui.

Seandainya pun hukum fisika memungkinkan adanya wormhole, kemungkinan besar wormhole tidak terjadi secara alami, tapi harus dibuat dan dijaga supaya tidak runtuh dengan suatu teknologi tertentu.

Teknologi kita saat ini masih sangat jauh dari itu. Teknologi wormhole masih sulit, seperti halnya pesawat ruang angkasa bagi manusia purba.

Tapi, sekalinya teknologi wormhole ini bisa dikuasai, ia akan menjadi sarana praktis untuk transportasi antarbintang. Ini menjadi tantangan bagi kita dan generasi berikutnya, termasuk kalian.

Referensi: Langitselatan.com

"Yang tidak ada batasnya ada dua: Alam Semesta dan Kebodohan." - Albert Einstein

Join our newsletter!

Dapatkan artikel astronomi ke email Anda. Gratis dan Aman!

Info Astronomy © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com