Show Mobile Navigation
Terbaru

1 November 2014

Wajib Lihat! Inilah Peristiwa Astronomis Sepanjang November 2014

Riza Astro - 11/01/2014 11:00:00 AM
Wajib Lihat! Daftar Fenomena Astronomi November 2013
Didesain oleh Info Astronomy
Info Astronomy - Selamat datang, November! Akhirnya, kita hampir menuju akhir dari tahun 2014. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

Info Astronomy sudah merangkum fenomena-fenomena astronomi yang akan terjadi pada November 2014 ini. Sebagian ada yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

1 November 2014: Elongasi Tertinggi Planet Merkurius
Di awal-awal November tahun ini, kita berkesempatan melihat Planet Merkurius dengan atau tanpa alat bantu alias bisa dengan mata telanjang.

Merkurius akan mencapai titik elongasi tertinggi yakni 18,7 derajat dari arah Barat Matahari kita. Dengan magnitudo -0,5, kita dapat melihat Merkurius bagai titik putih kecil di langit Timur 45 menit sebelum Sunrise.

7 November 2014: Bulan PurnamaFase Bulan Purnama, Bulan Penuh, Terang Bulan atau Full Moon pada November 2014 akan terjadi pada tanggal 7 November 2014 pukul 6:23 WIB.

Bulan Purnama baru bisa diamati setelah Sunset pada 7 November 2014. Tidak akan ada dampak negatif apapun dari peristiwa ini.

17-18 November 2014: Hujan Meteor Leonid
Leonid, sebuah hujan meteor periodik yang muncul dari rasi bintang Leo. Dapat mencapai intensitas 20 meteor per jam (ZHR).

Untuk mengamatinya, cukup tiduran di kursi santai sambil menatap langit. Hujan meteor Leonid paling bagus diamati selepas tengah malam hingga fajar tiba. Ini karena saat itu langit sudah benar-benar gelap gulita.

22 November 2014: Bulan Baru
Pada tanggal 22, Bulan akan memasuki fase Bulan Baru (New Moon). Pada fase ini, Bulan tidak akan teramati dari Bumi karena letaknya adalah Matahari - Bulan - Bumi.

Mengapa tidak terjadi gerhana jika letaknya demikian? Ini karena tidak benar-benar segaris lurus. Bulan Baru juga menandakan berakhirnya bulan Muharram dan dimulainya bulan Safar.

Bagaimana? Siap untuk mengamati fenomena-fenomena di atas? Ikuti @infoAstronomy di Twitter untuk update terkini tentang fenomena langit. Salam astronomi!

29 Oktober 2014

Roket Antares Meledak Saat Peluncuran, Ini Penjelasan NASA

Riza Astro - 10/29/2014 11:23:00 AM
Roket Antares Meledak Saat Peluncuran, Ini Penjelasan NASA
Foto roket Antares yang meledak sesaat setelah peluncuran pagi ini pukul 5:22 WIB. Kredit: collectSPACE
Info Astronomy - Roket Antares yang mengangkut wahana Cygnus Orb-3 di hidungnya meledak dahsyat setelah hanya beberapa detik meluncur pada pada Rabu 29 Oktober 2014 pukul 05:22 WIB (Selasa sore waktu Amerika Serikat).

Ledakannya terekam oleh salah satu stasiun infrasonik The Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization.

Ratusan ton bahan bakar oksigen cair dan kerosen jatuh ke landasan peluncuran di pulau Wallops, menghasilkan kebakaran hebat.

Tiga ton muatan yang seharusnya dikirim menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) terdiri dari muatan ilmiah, peralatan, makanan, buku, hardware, komputer, kamera dan 2 satelit mini kini telah musnah.

Lembaga Antariksa AS (NASA) langsung mengadakan konferensi pers pada pukul 8:00 WIB. Pernyataan berikut adalah dari William Gerstenmaier dari Asosiasi Administrasi Eksplorasi Manusia dan Direktorat Operasi, tentang kecelakaan yang terjadi:

"Kami (NASA) sangat kecewa dalam misi Orbital Science ketiga untuk ISS yang tidak berhasil hari ini. Namun, kami akan terus bergerak maju ke misi berikutnya dan belajar dari kecelakaan ini. Sayangnya, para astronot di ISS dalam bahaya kehabisan makanan atau persediaan penting lainnya.

"Orbital Science telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam dua misi pertama ke ISS awal tahun ini, dan kita tahu bahwa mereka seharusnya dapat sukses seperti dua misi tersebut.

"Peluncuran roket adalah suatu usaha yang sangat sulit, dan kita belajar dari setiap keberhasilan dan setiap kemunduran. Kecelakaan ini tidak akan menghentikan kami (AS) untuk terus mengeksplorasi luar angkasa."

Sekadar informasi, roket Antares yang meledak memiliki tinggi 42,5 meter dengan bobot 296 metrik ton.

Berikut ini salah satu video amatir dari detik-detik meledaknya roket Antares:


24 Oktober 2014

GALERI: Cantiknya Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014

Riza Astro - 10/24/2014 09:35:00 AM
GALERI: Cantiknya Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014
Foto komposit dari Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014. Kredit: Griffith Observatory
Info Astronomy - "Matahari terlihat tergigit siang ini!" kicau salah seorang Amerika di akun Twitternya. Ya, memang Gerhana Matahari Sebagian ini hanya teramati di sebagian besar AS, sebagian Meksiko serta Kanada.

Gerhana Matahari Sebagian ini dimulai pada pukul 21:00 UT tanggal 23 Oktober 2014 atau sekitar pukul 4:00 WIB tanggal 24 Oktober 2014.

Alasan ilmiah mengapa Indonesia tidak kebagian Gerhana Matahari Sebagian ini adalah, saat terjadi gerhana, sebagian wilayah Indonesia masih dinihari sehingga belum ada Matahari di langit.

Namun, Info Astronomy berhasil mengumpulkan foto-foto Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 untuk sedikit mengobati rasa penasaran Anda akan Gerhana Matahari Sebagian ini.

Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 di Kansas, AS. Kredit: Michael Hoag
Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 di Toronto, Kanada. Kredit: D R Keck
Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 di Colorado, AS. Kredit: Daniel McVey
Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 di Carolina Utara, AS. Kredit: Matthew Trudeau
Gerhana Matahari Sebagian 24 Oktober 2014 di Los Angeles, AS. Kredit: Peter Rodney Breaux

22 Oktober 2014

Inilah Jadwal Gerhana Matahari yang Bisa Disaksikan di Indonesia

Riza Astro - 10/22/2014 01:47:00 PM
Inilah Jadwal Gerhana Matahari yang Bisa Disaksikan di Indonesia
Gerhana Matahari Total. Kredit: Getty Images
Info Astronomy - Peristiwa Gerhana Matahari Sebagian bakal terjadi di AS, Meksiko dan Kanada pada 23 Oktober 2014. Indonesia dan seluruh negara yang tidak disebutkan kecuali yang tiga di atas tidak kebagian gerhana.

Ada kesempatan besar bagi seluruh wilayah Indonesia untuk mengamati Gerhana Matahari. Yakni, pada 9 Maret 2016, seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total!

Pada saat itu, Indonesia menjadi negara terbaik dalam pengamatan Gerhana Matahari Total yang bakal berlangsung pada 9 Maret 2016 mendatang. Khususnya Pulau Sulawesi.

Wilayah Indonesia yang berpotensi melihat fenomena Gerhana Matahari Total tahun 2016 nanti adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Selain Indonesia, area yang bisa melihat gerhana Matahari total adalah pasifik.

Sementara itu, untuk wilayah Jawa bakal mengalami gerhana sebagian dengan persentase penutupan cakram Matahari saat puncak gerhana antara 80 hingga 90 persen.

Dengan demikian, saat puncak gerhana nanti, warga Jawa akan melihat Matahari seperti Bulan sabit tipis.

Semoga kita diberi umur panjang untuk menyaksikan momen Gerhana Matahari Total tahun 2016 ini.

Kamis 23 Oktober, Gerhana Matahari Sebagian Bakal Teramati di AS

Riza Astro - 10/22/2014 01:32:00 PM
Kamis 23 Oktober, Gerhana Matahari Sebagian Bakal Teramati di AS
Gerhana Matahari Sebagian di Bali, Indonesia pada 10 Mei 2013. Kredit: Malik Nur Hakim
Info Astronomy - Sebuah peristiwa langka, Gerhana Matahari, bakal membuat AS dan Sekitarnya gelap untuk beberapa saat.

Gerhana Matahari ini merupakan Gerhana Matahari Sebagian, di mana piringan Bulan hanya akan menutupi sebagian piringan Matahari, seperti yang teramati di Bali, Indonesia pada 10 Mei 2013 silam.

Sayangnya, Gerhana Matahari Sebagian (setelah ini penulis menyingkatnya sebagai GMS) hanya teramati di AS, Meksiko dan sebagian wilayah Kanada.

Berikut peta terjadinya GMS pada 23 Oktober 2014:

Wilayah yang masuk dalam garis dapat melihat GMS. Kredit: NASA
Bagi Anda orang Indonesia yang kebetulan sedang berada di AS atau berada di negara-negara yang masuk ke dalam garis pada foto di atas, Anda dapat mengamatinya pukul 14:08 GMT -7.

Puncak GMS ini akan terjadi pada pukul 15:28 GMT -7 atau sama dengan pukul 00:28 WIB (24/10). Inilah sebabnya GMS pada 23 Oktober 2014 tidak bisa diamati di Indonesia: Indonesia sedang mengalami malam hari!

Tidak akan ada dampak negatif apapun dari terjadinya GMS ini. Untuk mengamati GMS, harap gunakan kacamata berfilter Matahari atau kalau melalui teleskop harap gunakan filter Matahari.

Anda dapat melihat GMS ini secara online pada live-streaming pada tautan ini.

19 Oktober 2014

Pencarian Kehidupan di Mars Diawali dari Bumi

Info Astronomy - 10/19/2014 02:00:00 PM
Pencarian Kehidupan di Mars Diawali dari Bumi
Ini Mars? Bukan, melainkan gunung berapi Licancabur di Cile. Kredit: Nataliya Hora
Info Astronomy - Danau Frigid dibombardir oleh radiasi UV sehingga mendidih, mata air asam adalah sebagian dari lingkungan ekstrim di Bumi di mana para ilmuwan berencana untuk berburu petunjuk untuk kehidupan di Mars di sana.

Didanai oleh NASA, para peneliti akan tur dalam tiga generasi ke Mars dari Bumi --ketika Mars sudah mulai dingin, basah dan laik dihuni.

Lingkungan Mars saat ini mirip seperti sumber air panas di California dan Taman Nasional Yellowstone, permafrost di pulau-pulau Arktik dingin, beberapa batu tertua Bumi di Australia, dan danau vulkanik serta tanah di Cile.

"Kami memilih lingkungan ini karena kami ingin memahami tanda-tanda kehidupan di Mars pada waktu yang berbeda," kata Nathalie Cabrol, pemimpin proyek dan seorang ilmuwan riset senior di SETI Institute di Mountain View, California.

Tim SETI yang mepimpin akan ruang lingkup "biosignatures," atau bukti kehidupan, menggunakan instrumen yang sama dengan yang NASA rencanakan untuk disematkan pada rover Mars berikutnya pada tahun 2020.

Di Mars, petunjuk kehidupan bisa saja bersembunyi dalam batuan yang berumur lebih dari 3,5 miliar tahun. Jika lingkungan kuno planet Maes mirip dengan yang lingkungan kuno Bumi, maka robot penjelajah nantinya mungkin menemukan fosil tikar mikroba di Mars.

18 Oktober 2014

Manusia yang Tinggal di Mars Diprediksi Mati dalam 68 Hari Setelah Mendarat

Info Astronomy - 10/18/2014 02:00:00 PM
Ilustrasi koloni di Planet Mars. Kredit: Mars One
Info Astronomy - Mars One, sebuah rencana misi ambisius yang digagas oleh pengusaha asal Belanda untuk mengirim manusia ke Mars dan mulai membangun koloni di sana.

Usulan tersebut telah menerima kritik sengit karena kurangnya tujuan yang realistis dan sekarang sebuah studi baru-baru ini telah membuat 'pukulan telak' pada Mars One yang mengatakan bahwa para penjelajah ini akan mati dalam 68 hari.

Tekanan udara rendah, habitat yang berisiko untuk meledakan tubuh dan kurangnya bahan makanan adalah salah satu bahaya fatal yang tampaknya menunggu siapa pun yang membuat perjalanan perdana ke planet ini.

Studi ini dilakukan oleh mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat. Dalam penelitian, mereka menemukan sejumlah 'kondisi gagal' yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian awak.

"Kematian awak pertama akan terjadi sekitar 68 hari setelah," kata salah satu mahasiswa yang melakukan studi tersebut
.

Pertama, para penjelajah ini tidak memiliki cukup makanan sehingga para penjelajah akhirnya akan kelaparan di Mars

Selanjutnya, salah satu tujuan dari Mars One adalah untuk menanam tanaman di beberapa ruangan habitasi di planet merah. Tanaman menghasilkan oksigen, sehingga terlalu banyak oksigen dalam lingkungan tertutup bisa menciptakan lingkungan yang sangat mudah terbakar. 

Oksigen membutuhkan ventilasi namun mereka juga harus menjaga dan mempertahankan Nitrogen dalam ruangan tersebut untuk menjaga tekanan udara. Tapi teknologi untuk dapat melakukan ini di planet lain belum ada.
Waktu perjalanan dari Bumi ke Mars adalah sekitar 100 hari dengan teknologi saat ini, jika sewaktu-waktu pesawat yang mengangkut para awak rusak di perjalanan, habis lah mereka.

Masih mau ke Mars?

Akhir Pekan Ini, Ayo Amati Planet Mars dan Komet Siding Spring yang Berdekatan

Info Astronomy - 10/18/2014 01:00:00 PM
Akhir Pekan Ini, Ayo Amati Planet Mars dan Komet Siding Spring yang Berdekatan
Letak Mars dan komet Siding Spring. Kredit: NASA, JPL
Info Astronomy - Sebuah komet bakal berada pada jarak super dekat dengan planet tetangga kita, Planet Mars pada 19 Oktober 2014. Bagi yang punya teleskop, ayo ngamat!

Komet yang dimaksud adalah komet Siding Spring, ditemukan pada 3 Januari 2013 oleh astronom Skotlandia-Australia Robert H. McNaught, seorang pengamat komet dan asteroid yang sangat produktif.  


McNaught telah menemukan 82 komet. McNaught adalah peserta di Siding Spring Survey, sebuah program yang memburu asteroid yang berpotensi mendekati Bumi.

McNaught menemukan komet Siding Spring menggunakan teleskop Uppsala Schmidt 0,5 meter di Siding Spring Observatory, New South Wales, Australia. 

Karena
komet ditemukan dari survei observatorium untuk menemukan asteroid, dengan begitu sang komet menyandang nama observatorium, Siding Spring. Secara resmi dikatalogkan sebagai C/2013 A1.

Ketika ditemukan, Komet Siding Spring berjarak sekitar 1,07 miliar kilometer dari Matahari. Sesaat setelah itu, para astronom mengidentifikasi komet dalam foto yang diambil pada 8 Desember 2012 (sebelum penemuan resmi) oleh Catalina Sky Survey di Arizona.

Berdasarkan karakteristik orbitnya, komet ini tampaknya komet yang baru terbentuk atau komet bepergian dalam orbit parabola dan membuat kunjungan pertama ke Matahari kita.

Sekadar info, komet ini akan melintas dalam jarak paling dekat dengan Matahari (disebut perihelion) pada 25 Oktober pada jarak 209 juta kilometer.

Tapi titik menarik dari kunjungan Komet Siding Spring adalah pada hari Minggu (19/10), ketika komet ini bakal berada sangat dekat dari permukaan Planet Merah.

Menurut perhitungan para astronom, titik terdekat komet Siding Spring dengan Planet Mars adalah pukul 18:28 GMT atau pada pukul 1:28 WIB pada 20 Oktober 2014.

Komet akan meluncur pada kecepatan sekitar 202.777 kilometer/jam. Pertemuan angkasa ini akan memberikan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi para ilmuwan untuk mengumpulkan data dari komet dan pengaruhnya terhadap atmosfer Mars.

Perhitungan terbaru menunjukkan bahwa pada pendekatan terdekat, komet Siding Spring hanya akan berjarak 138.700 kilometer dari permukaan Planet Mars, atau hanya 36% dari jarak rata-rata Bumi ke Bulan.

Teleskop diperlukan untuk melihat komet dari Bumi
Anda memiliki kesempatan untuk melihat komet Siding Spring! Komet ini akan mencapai magnitudo -6, atau sekitar tiga kali lebih terang dari kenampakan Planet Venus.


Namun, karena komet berjarak sekitar 243 juta kilometer dari Bumi, maka kita tidak akan melihatnya dalam "bentuk komet" yang memiliki ekor. Pengamat mata akan sangat kesulitan mengamati sang komet, namun tetap bisa melihat Planet Mars.

Anda membutuhkan teleskop untuk mengamati komet Siding Spring. Dalam pandangan teleskop, komet akan nampak bagai bintang dengan sedikit ekor dan tidak akan bergerak kemana-mana melainkan berada di sebelah Planet Mars.
Kami sangat menyarankan
Anda menggunakan teleskop minimal memiliki aperture 8 inchi. Coba gunakan perbesaran mulai dari antara 200 hingga 400 kali untuk 'mempersempit' tampilan Anda.


Di mana letaknya?
Di saat seperti ini, peta langit sangat berguna untuk digunakan. Silakan unduh peta langit untuk gadget atau komputer Anda pada tautan ini.

Planet Mars akan bertengger sekitar 45 derajat di atas cakrawala langit Barat Daya sekitar 45 menit setelah Matahari terbenam di langit Indonesia.

Pada saat itu, komet Siding Spring hanya akan berada sekitar 1 derajat di sebelah kiri atas Planet Mars saat Anda mengamati lewat teleskop.


Selamat mengamati!
Sebelumnya
Editor's Choice