Peristiwa Astronomis

Lainnya »

Ulasan Menarik

Lainnya »

Pilihan Editor

Lainnya »

Artikel Terkini

27 Januari 2015

Inilah Bintang Paling Menarik di Alam Semesta

Inilah Bintang Paling Menarik di Alam Semesta
Kredit: UNAWE, NASA, ESA
Info Astronomy - Pernahkah Anda bermain dengan magnet? Apakah Anda pernah mencoba menaruh magnet di meja dan meletakkan paku di dekatnya? Apa yang terjadi? Jika magnet didekatkan pada paku, maka paku itu akan meloncat dan melekat pada magnet.

Kok bisa ya? Ini karena magnet punya sesuatu yang tak terlihat di sekelilingnya, namanya ‘medan magnet’. Kehadiran medan magnetlah yang membuat magnet bisa menolak atau menarik benda lain, meskipun magnet tidak bersentuhan langsung dengan benda-benda itu.

Magnet terkuat di alam semesta adalah magnetar. Ia merupakan bintang super-padat yang 50 kali lebih masif dari Matahari dan diciutkan atau dipadatkan jadi sebuah bola berukuran 20 km. Atau seukuran sebuah kota kecil.

Menurut para astronom, magnetar terbentuk saat bintang masif mati dalam ledakan supernova. Gas dari bintang akan terlontar ke angkasa dan menciptakan awan berwarna warni seperti foto Kes 73 di atas. Pada saat yang sama, inti bintang akan menciut dan membentuk magnetar.

Di inti awan kosmik terdapat magnetar yang sangat kecil. Tapi, meskipun bintang ini sangat kecil, energinya sangat besar. Magnetar bisa melepaskan pancaran sinar-X yang sangat kuat setiap beberapa detik! Nah, Anda juga bisa melihat pancaran sinar-X yang berwarna biru di foto.

Fakta menarik
Menurut para astronom, terdapat lebih dari 30 juga magnetar di Bima Sakti!

Disadur dari Press Rilis Chandra X-ray Observatory.

Planet "Saturnus-Super" Ini Miliki Sistem Cincin Raksasa

Planet "Saturnus-Super" Ini Miliki Sistem Cincin Raksasa
Ilustrasi planet "saturnus-super" J147b. Kredit: Ron Miller
Info Astronomy - Para astronom belakangan ini telah mengamati bintang mirip Matahari yang terang-redup berkali-kali. Bintang yang terlihat berkelap-kelip tersebut menunjukkan adanya gerhana oleh planet dengan sistem cincin raksasa, mirip dengan Saturnus, tapi cincinnya jauh-jauh-jauh-jauh lebih besar!

Bintang yang para astronom amati bernama J1407, adalah bintang deret utama berupa katai oranye yang bejarak sekitar 116 tahun cahaya dari Matahari.

Selama 57 hari di musim semi tahun 2007, bintang J1407 menjalani "serangkaian gerhana kompleks" yang menegaskan tim astronom internasional merupakan hasil dari gerhana planet sistem cincin raksasa yang diberi nama J1407b.

"Planet ini jauh lebih besar dari Jupiter, dan sistem cincinnya sekitar 200 kali lebih besar dari sistem cincin Saturnus hari ini," kata Eric Mamajek, profesor fisika dan astronomi di University of Rochester di New York. "Anda bisa menganggapnya sebagai semacam Saturnus-Super."

Pengamatan dilakukan melalui program SuperWASP, yang menggunakan teleskop berbasis darat untuk mengamati peredupan bintang karena transit Saturnus-Super ini.

Studi pertama dari gerhana dan kemungkinan adanya sistem cincin diterbitkan pada tahun 2012, yang dipimpin oleh Mamajek.

Analisis lebih lanjut oleh tim astronom internasional memperkirakan jumlah struktur cincin utama jumlahnya adalah 37. Sistem cincin ini membentang sejauh 180 juta kilometer! Dibandingkan dengan cincin Planet Saturnus yang hanya membentang 127.000 kilometer.

"Jika kita bisa mengganti cincin Saturnus dengan cincin Planet J1407b," kata Matthew Kenworthy dari Leiden Observatory di Belanda, "Kita bisa melihatnya dengan jelas di langit malam dan bahkan kenampakannya lebih besar dari Bulan Purnama."

Planet ekstra surya J1407b sendiri diperkirakan memiliki 10 hingga 40 kali massa Jupiter --secara teknis, objek ini seharusnya disebut katai coklat.

Laporan tim astronom internasional dari J1407b ini telah dipublikasikan di Astrophysical Journal.

Asteroid yang Lintasi Bumi Semalam Memiliki Satelit Alami

Asteroid yang Lintasi Bumi Semalam Memiliki Satelit Alami
Rekaman radar NASA dari kenampakan asteroid 2004 BL86 yang lintasi Bumi dengan aman pada 26 Januari 2015. Kredit: NASA
Info Astronomy - Pada 26 Januari 2015, asteroid 2004 BL86 telah lintasi Bumi dengan aman. Titik terdekatnya adalah pukul 23:19 WIB (26/1) pada jarak sekitar 1,2 juta kilometer, atau hanya sekitar tiga kali jarak antara Bumi dan Bulan. Dan ternyata, asteroid ini memiliki satelit alami (bulan) sendiri!

Asteroid 2004 BL86 ditemuka pada tahun 2004 lewat survei Lincoln Near-Earth Asteroid Research di White Sands, New Mexico.

Saat melintasnya ia pada Senin (26/1) adalah titik lintasai yang paling dekat antara asteroid berdiameter 500 meter ini dengan Bumi untuk dua abad kedepan.

Astronom yang bekerja dengan antena radar Deep Space Network di Goldstone, California, berhasil menangkap 20 citra radar dari asteroid 2004 BL86 semalam, dan mengungkapkan bahwa ada bulan yang berdiameter 70 meter mengorbit asteroid 2004 BL86 ini.

Pengukuran radar membantu para peneliti mempelajari ukuran, bentuk, rotasi, fitur permukaan, dan kekasaran permukaan asteroid. Radar juga sangat berguna untuk meningkatkan perhitungan orbit.

Saat Anda membaca artikel ini, asteroid 2004 BL86 telah bergerak menjauh dari Bumi.

Lihat video rekaman dari perlintasan terdekat asteroid 2004 BL86 dengan Bumi pada tautan ini.

26 Januari 2015

Salam Berbahasa Indonesia dan Musik Gamelan Disematkan NASA pada Voyager 1

Salam Berbahasa Indonesia dan Musik Gamelan Disematkan NASA pada Voyager 1
Ilustrasi Voyager 1 di ruang angkasa. Kredit: NASA
Info Astronomy - Voyager 1, sebuah wahana antariksa yang diluncurkan Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 5 September 1977 ini masih beroperasi hingga Anda membaca artikel ini.

Voyager 1 memiliki tujuan untuk mengenalkan kebudayaan Bumi dan ingin mewakili manusia di Bumi kepada (jika ada) makhluk semesta lain tentang keberadaan kehidupan di planet kita.

Seperti informasi yang tertera pada situs web Misi Voyager, Voyager 1 kini berada pada jarak sekitar 20 triliun kilometer dari Bumi.

Ada yang spesial dari misi Voyager 1 ini. NASA menyematkan sebuah "Piringan Emas" yang berisi segala kebudayaan dan bahasa dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Salam Berbahasa Indonesia dan Musik Gamelan Disematkan NASA pada Voyager 1
Piringan emas Voyager 1. Kredit: NASA
Isi Piringan Emas Voyager terdiri dari kumpulan 116 gambar dan berbagai suara alam seperti ombak, angin, dan petir, serta suara hewan seperti kicauan burung dan nyanyian paus.

Selain itu, piringan ini juga diisi dengan musik-musik pilihan dari berbagai kebudayaan dan zaman serta ucapan salam dalam 59 bahasa.

Berkas yang dimasukkan dalam piringan ini dipilihkan untuk NASA oleh tim yang diketuai Carl Sagan dari Universitas Cornell.

Dari ke-59 bahasa terpilih, ada Bahasa Indonesia yang berisikan salam dari penduduk Bumi yang berbunyi, "Selamat malam, hadirin sekalian. Selamat berpisah dan sampai bertemu lagi di lain waktu."

Pesan berbahasa Indonesia tersebut disuarakan oleh seseorang bernama Ilyas Harun. Ucapan salam tersebut dapat Anda unduh di sini.

Selain ucapan salam, ada juga suara Gamelan Pura Paku Alaman karya Mangkunegara IV yang dipimpin K.R.T. Wasitodipuro yang berjudul Puspawarna.

Ada juga foto penari Bali yang ikut disematkan pada Piringan Emas Voyager 1. Sayangnya, suara gamelan dan foto penari Bali tidak dirilis NASA di situs web Voyager.

Bangga? Tentu harus bangga. Bahasa dan kebudayaan kita ikut andil dalam misi Voyager 1 yang kini diperkirakan sudah mencapai batas luar tata surya kita.

Apa jadinya jika suatu saat ada makhluk luar Bumi yang mendengarkan rekaman suara tersebut? Sungguh menarik untuk ditunggu keberadaan mereka!

Asteroid Sebesar Dua Kali Kapal Pesiar Lintasi Bumi Malam Ini

Asteroid Sebesar Dua Kali Kapal Pesiar Lintasi Bumi Malam Ini
Jalur lintasan asteroid 2004 BL86 pada 26-27 Januari 2015. Kredit: Sky & Telescope
Info Astronomy - Apakah Anda siap untuk menyaksikan asteroid yang bakal lintasi Bumi? Meskipun tidak berbahaya bagi Bumi, asteroid yang satu ini sangat besar. Diameternya setara dua kali kapal pesiar!

Asteroid yang diberi kode nama 2004 BL86 oleh para astronom, akan memintasi Bumi dengan aman pada malam hari tanggal 26-27 Januari 2015.

Asteroid ini diperkirakan memiliki diameter 600 meter. Pada titik pendekatan terdekatnya (26 Januari 2015 pukul 23:20 WIB), asteroid ini hanya akan berjarak 1,2 juta kilometer dari Bumi, atau sekitar tiga kali jarak Bumi-Bulan. Asteroid ini tidak bisa diamati dengan mata karena terlalu redup, Anda butuh teleskop.

Tidak punya teleskop? Ayo tonton lewat Live-Streaming!

Asteroid akan berada di rasi bintang Cancer pada titik terdekatnya. Anda bisa menggunakan peta jalur lintasan asteroid 2004 BL86 di atas untuk melakukan pelacakan.

Asteroid 2004 BL86 akan mencapai magnitude maksimal +9, yang berarti akan terlihat bagai bintang samar jika Anda melihatnaya melalui teleskop diameter 4 inci (10 cm) atau lebih besar. Magnitudo +9 sangat sukar untuk diamati dengan mata.

Asteroid berbeda dengan meteor atau komet, asteroid 2004 BL86 akan bergerak sangat lambat, tidak secepat meteor yang biasa melesat di langit malam.

Namun, asteroid bergerak lebih cepat dari pergerakan Bulan di depan bintang-bintang. Para astronom memperkirakan asteroid membutuhkan waktu 11 menit untuk bergerak setara dengan lebar Bulan Purnama di langit, atau bergerak hampir tiga derajat setiap jamnya.

Pada kenyataannya, asteroid 2004 BL86 bergerak super-cepat di ruang angkasa, kecepatannya sekitar 56.420 km/jam!

Pengamat di Amerika, Eropa dan Afrika mungkin memiliki pandangan yang terbaik. Setidaknya lebih baik dari para pengamat di Australia dan Asia. Indonesia sendiri bisa melihat asteoid ini saat tengah malam (27/1) di langit atas kepala.

Live-Streaming:
-Slooh Observatory - Menyajikan citra real-time. Dimulai pada 26 Januari 2015 pukul 23:00 WIB
-The Virtual Telescope Project - Menyajikan citra real-time. Dimulai pada 27 Januari 2015 pukul 2:30 WIB

"Yang tidak ada batasnya ada dua: Alam Semesta dan Kebodohan." - Albert Einstein

Join our newsletter!

Dapatkan artikel astronomi ke email Anda. Gratis dan Aman!

Info Astronomy © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com