Pelajari Langit, Lindungi Bumi

Temukan lebih dari 5000 artikel astronomi di sini!

Artikel Populer

Artikel Terkini

1 Agustus 2015

Wajib Lihat! Inilah Daftar Peristiwa Astronomis Sepanjang Agustus 2015

Didesain oleh redaksi Info Astronomy
Info Astronomy - Agustus! Selain bulan ini Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-70 tahun, peristiwa-peristiwa astronomis seperti hujan meteor dan Bulan Purnama akan menghiasi langit malam.

Redaksi Info Astronomy telah merangkum jadwal peristiwa astronomis sepanjang Agustus 2015. Jangan lupa bookmark halaman atau artikel ini sebagai kalender astronomi Anda.

2 Agustus 2015: Bulan di Perigee
Perigee adalah istilah yang digunakan saat Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi kita. Pada Agustus 2015, Bulan pasca Purnama akan berada di perigee pada tanggal 2, tepatnya pukul 17:11 WIB. Jaraknya dari Bumi saat itu sekitar 362.135 kilometer.

5 Agustus 2015: Konjungsi Bulan dengan Planet Uranus
Konjungsi adalah peristiwa di mana dua atau lebih objek langit saling berdekatan jika diamati dari permukaan Bumi. Konjungsi kali ini akan mempertemukan Bulan dengan Planet Uranus. Sayangnya, untuk mengamati Uranus dibutuhkan teleskop canggih, ini karena Uranus terlalu redup untuk diamati.

Mereka berdua akan berada di titik tertinggi di langit, sekitar 76 derajat dari cakrawala Utara, pada pukul 4:16 WIB. Bulan dan Uranus hanya akan terpisah 0°57'. Magnitudo Bulan sekiar -12,7 sedangkan magnitudo Uranus +5,8. Semakin besar angka magnitudo, semakin redup sebuah benda langit.

8 Agustus 2015: Konjungsi Bulan dengan bintang Aldebaran
Bulan yang sudah mencapai fase Sabit Akhir akan ditemani bintang merah Aldebaran di rasi bintang Taurus. Anda dapat melihat dekatnya Bulan dengan Aldebaran saat sebelum Matahari terbit pada 8 Agustus 2015 di langit Timur.

11, 12, 13 Agustus 2015: Puncak Hujan Meteor Perseid!
Hujan meteor adalah peristiwa saat debris atau puing-puing komet masuk ke atmosfer Bumi, dan terbakar. Debris ini muncul ketika Bumi melintasi bekas orbit sebuah komet yang pernah mendekati Matahari. Pada Agustus, yang terjadi adalah hujan meteor Perseid, berasal dari debris komet Swift-Tuttle.

Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada 11, 12 dan 13 Agustus 2015. Peristiwa ini dapat diamati mulai tengah malam hingga Matahari terbit. Tidak butuh teleskop, alias pengamatan wajib diamati dengan mata telanjang. Intensitasnya mencapai 60 meteor per jam! Kabar baiknya, hujan meteor ini bisa diamati di seluruh Indonesia!

15 Juli 2015: Venus di Konjungsi Inferior
Dari sudut pandang kita di Bumi ini, Venus akan muncul sangat dekat dengan Matahari di langit. Ini karena Venus akan mencapai konjungsi inferior, atau sederhananya adalah peristiwa saat Venus berada di antara Matahari dan Bumi.

Venus dan Matahari hanya terpisah 7° di langit, membuat Venus benar-benar tidak dapat diamati selama beberapa pekan kedepan. Setelah konjungsi inferior ini, Venus yang beberapa bulan ini kita amati di langit Barat saat senja akan pindah ke langit Timur saat dinihari.

18 Agustus 2015: Bulan di Apogee
Apogee adalah kebalikan dari perigee, alias titik terjauh Bulan dengan Bumi. Pada 18 Agustus 2015 jarak Bulan dengan Bumi adalah sekitar 405.852 kilometer, membuat Bulan akan terlihat lebih kecil dari biasanya di langit Bumi.

29 Agustus 2015: Bulan Purnama
Bulan Purnama pada Agustus 2015 sebenarnya akan terjadi pada tanggal 30 pukul 1:36 WIB dinihari. Namun, kenampakan Bulan pada senja tanggal 29 akan terlihat bulat mendekati Purnama.

Bulan Purnama akan muncul seperti Bulan Purnama pada umumnya, tidak akan terlihat biru atau bahkan polkadot. Peristiwa ini juga tidak akan menyebabkan terjadinya bencana di Bumi. Jadi, mari duduk dan nikmati Purnama di Agustus.

Nah, itulah beberapa peristiwa astronomis sepanjang Agustus 2015. Mana yang paling Anda tunggu?
Astronomi Fenomena Terbaru

Para Ilmuwan Akan Mulai Pencarian Kehidupan di Planet Bumi 2.0

Ilustrasi Planet Kepler-452b, Sang Bumi Kedua. Kredit: NASA, Caltech
Info Astronomy - Para ilmuwan di Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) mulai menargetkan Planet Kepler 452b, sebuah planet pertama dengan ukuran mirip Bumi dan berada di zona habitasi bintang mirip Matahari, untuk mencari kehidupan cerdas di sana.

NASA mengumumkan penemuan Kepler-452b pekan lalu, planet ini disebut-sebut sebagai Bumi Kedua. SETI menggunakan Array Allen Telescope, 42 antena radio yang berlokasi di San Francisco, untuk memindai sinyal radio dari Sang Bumi Kedua yang bisa menunjukkan adanya kehidupan di sana.

Namun, sejauh ini belum terdeteksi apa-apa. "Tidak ada alasan untuk berkecil hati," Seth Shostak, astronom senior SETI, mengatakan melalui webcast yang diadakan oleh Komunitas Observatorium Slooh pada 26 Juli 2015.

"Mungkin saja kehidupan di Kepler-452b hanya semacam bakteri yang tidak membangun pemancar radio di planet tersebut," tambah Shostak, dengan yakinnya.

Puluhan Miliar Planet
Kepler-452 adalah bintang seperti Matahari, yang terletak 1.400 tahun cahaya dari Bumi, di konstelasi Cygnus. Dan Kepler-452b adalah planet yang mengorbitnya, memiliki radius sekitar 1,6 kali lebih besar dari Bumi. Massa dan kepadatan planet saat ini masih dipelajari.

"Kami senang untuk dapat melakukan pengukuran massa secara langsung sehingga kita bisa mengukur kepadatannya," kata Jon Jenkins dari NASA Ames Research Center, peneliti utama dari identifikasi Kepler-452b. "Itu akan menjadi petunjuk besar apakah ini adalah planet berbatu atau hanya ada air, atau malah planet gas."

Tim mengandalkan statistik untuk menyimpulkan bahwa planet ini memiliki probabilitas tinggi memiliki komposisi mirip dengan Bumi. "Kemungkinan besar planet ini adalah planet berbatu," kata Jenkins.

Kepler-452b mengorbit bintangnya sekali setiap 385 hari, sekitar tiga minggu lebih lama dari Bumi butuhkan untuk perjalanan mengelilingi Matahari. Orbit ini menempatkan planet tepat di apa yang para ilmuwan sebut "zona laik huni," sebuah wilayah sekitar bintang di mana air cair dapat bertahan di permukaan planet.

Air dianggap persyaratan utama bagi kehidupan untuk berkembang, sehingga Kepler-452b adalah salah satu dari puluhan miliar planet selain Bumi yang berpotensi mengembangbiakan kehidupan di permukaannya.

Cara Ilmuwan Memburu Kehidupan Luar Bumi
SETI menggunakan Array Allen Telescope, sebuah teleskop di Pegunungan Cascade di California untuk mengamati Kepler-452b. Sejauh ini, Array Allen telah mengamati planet di lebih dari 2 miliar pita frekuensi, tanpa hasil. Teleskop akan terus mengamati lebih total 9 miliar frekuensi, mencari sinyal kehidupan asing.

"Ada tiga cara untuk menemukan kehidupan di luar angkasa," kata Shostak. "Yang pertama adalah untuk pergi ke sana dan melihat langsung, seperti yang manusia lakukan di Mars saat ini, kita mengirim robot-robot ke Mars." Untuk planet seperti Kepler-452b, yang terletak begitu jauh dari tata surya, perjalanan tersebut akan menjadi sukar dengan teknologi saat ini.

Cara yang kedua, kata Shostak, adalah membangun teleskop besar dan menganalisis cahaya yang memantul dari planet. Teleskop Antariksa Hubble milik NASA sudah mulai menyelidiki atmosfer planet-planet yang jauh. Namun, Jenkins mengatakan, bintang induk Kepler-452b terlalu redup untuk memungkinkan pengamatan semacam ini.

Cara ketiga, lanjut Shostak, untuk menemukan kehidupan di luar angkasa adalah mencari sinyal yang bisa menunjukkan adanya kehidupan. "Itulah yang SETI lakukan," kata Shostak. "Apa yang Anda benar-benar ingin kami ketahui adalah apakah planet ini bisa dihuni atau tidak."
Eksoplanet Terbaru

31 Juli 2015

Bulan Purnama Malam Ini Takkan Terlihat Biru

Menanti Blue Moon di Akhir Juli
Bulan Purnama yang disunting sedemikian rupa agar menjadi warna biru. Kredit: Priya Kumar
Info Astronomy - Pernahkah Anda mendengar istilah Blue Moon? Mungkin ada yang pernah namun ada pula yang belum. Tapi bagi siapapun yang pertama kali mendengarnya mungkin mengira bahwa Blue Moon adalah istilah yang digunakan saat Bulan terlihat berwarna biru. Benarkah itu?

Mmm... sayangnya bukan seperti itu. Tapi mungkin kah Bulan benar-benar terlihat berwarna biru? Mari kita bahas satu-satu.

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan Blue Moon? Blue Moon adalah istilah yang digunakan untuk julukan peristiwa Bulan Purnama kedua dalam satu bulan (month, selanjutnya akan disebut "bulan" dengan huruf "b" kecil). Satu putaran Bulan mengelilingi Bumi berlangsung dalam 29,5 hari. Nah, dalam setiap putaran tersebut, fase Bulan akan terlihat berbeda-beda di mata kita.

Pada saat Bulan mencapai puncaknya (tepat di belakang Matahari dan Bumi), kita dapat melihat seluruh permukaan Bulan yang menghadap Bumi. Itulah yang kita sebut sebagai Bulan Purnama. Bulan purnama ini hanya terjadi satu kali dalam satu putaran Bulan, dengan kata lain Bulan Purnama terjadi setiap 29,5 hari sekali.

Karena ada 30-31 hari dalam satu bulan masehi (kecuali Februari yang hanya memiliki 28-29 hari), dimungkinkan akan ada dua kali Bulan Purnama selama sebulan. Bulan Purnama kedua itulah yang disebut sebagai Blue Moon.

Peristiwa Bulan Purnama kedua ini bakal terjadi pada akhir Juli 2015. Bulan Purnama yang sudah terjadi pada 2 Juli 2015 akan terjadi lagi pada 31 Juli 2015. Bulan akan masuk fase Purnama pada pukul 17:44 WIB pada akhir Juli nanti.

Sudah jelas kan kalau Blue Moon bukan berarti Bulan berwarna biru? Blue Moon juga tidak akan mengakibatkan timbulnya bencana di Bumi. Jadi kita akan aman-aman saja. Selamat menanti Blue Moon!
Feature Fenomena Terbaru

NASA Temukan Eksoplanet Berbatu di Dekat Tata Surya Kita

Ilustrasi eksoplanet berbaru di dekat tata surya kita. Kredit: NASA, JPL
Info Astronomy - Setelah berhasil menemukan Kepler-452b yang disebut-sebut sebagai Planet Bumi 2.0, sekarang ini NASA kembali menemukan sebuah eksoplanet atau ekstra solar planet. Sebuah planet berbatu yang tidak jauh dari Bumi kita, setidaknya dalam skala alam semesta.

Menggunakan Teleskop Antariksa Spitzer milik NASA yang ditempatkan di orbit Bumi, para astronom telah mengkonfirmasi penemuan planet berbatu tersebut di dekat luar tata surya kita. Planet ini memiliki ukuran yang lebih besar dari Bumi dan merupakan "tambang emas" untuk mengumpulkan data-data ilmiah.

Dinamai HD 219134b, planet ini mengorbit terlalu dekat dengan bintang induknyanya, sehingga tidak mungkin ada air cair di sana dan juga tidak laik huni. Planet ini hanya 21 tahun cahaya jauhnya dari Bumi. Sementara planet itu sendiri tidak dapat dilihat secara langsung, bahkan oleh teleskop, bintang induknya terlihat dengan mata telanjang di langit malam di rasi bintang Cassiopeia, dekat Bintang Utara Polaris.

Letak bintang HD 219134. Kredit: NASA, JPL
HD 219134b merupakan planet luar surya terdekat dengan Bumi yang pernah dideteksi dengan metode transit, sebuah metode pengamatan planet yang melintas di depan bintang induknya. Karena itu, cocok untuk penelitian yang lebih dalam tentang planet ini.

"Planet ini akan menjadi salah satu dari sekian banyak planet luar surya yang paling dipelajari selama beberapa dekade yang akan datang," kata Michael Werner, ilmuwan pada misi Spitzer di NASA Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California.

Planet awalnya ditemukan dengan menggunakan instrumen HARPS melalui Teleskop Nasional Galileo di Kepulauan Canary, Italia. Planet ini juga adalah subjek dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics.

Penulis studi Ati Motalebi dari Observatorium Jenewa di Swiss mengatakan ia percaya planet ini adalah target ideal untuk James Webb Space Telescope milik NASA yang akan diluncurkan ke orbit Bumi dan mulai beroperasi pada tahun 2018. "Teleskop James Webb nantinya mungkin akan sanggup mencitrakan planet ini dengan baik," kata Motalebi.

Hanya sebagian kecil dari planet luar surya yang dapat dideteksi dengan metode transit karena bintang induk mereka memiliki orientasi relatif terhadap Bumi. Ketika orientasi tepat, planet berada di depan bintang induknya, peredupan cahaya bintang pun mendeteksi adanya planet yang mengorbit.

Peredupan inilah yang sebenarnya diteliti oleh Spitzer dan dapat mengungkapkan tidak hanya ukuran planet tetapi juga petunjuk tentang komposisi planet.

"Planet HD 219134b ini merupakan planet tetangga kita yang berada di tata suya lain," kata astronom dan rekan penulis studi Lars A. Buchhave dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts. Untuk referensi, planet sebelumnya yang dikenal paling dekat dengan Bumi adalah GJ674b, berjarak 14,8 tahun cahaya; komposisinya tidak diketahui.

NASA mengungkap massa planet HD 219134b ini sekitar 4,5 kali lebih besar dari massa Bumi. Ukuran planet tersebut juga sekitar 1,6 kali lebih besar dari Bumi. Menggabungkan ukuran dan massa, NASA mendapatkan temuan bahwa kepadatan planet ini sekitar 3,5 ons per inci kubik (6 gram per sentimeter kubik), dan mengkonfirmasikan HD 219134b adalah planet berbatu.

Sekarang astronom tahu HD 219134b transit bintangnya, para ilmuwan akan terus mengamati dan memelajari planet ini. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi kimia saat peredupan cahaya bintang karena planet lewat di depannya. Jika planet ini memiliki atmosfer, bahan kimia di dalamnya dapat membuat pola dalam cahaya bintang yang diamati.

Riza Miftah Muharram, JPL
Eksoplanet Terbaru

Astronom Temukan Adanya Aurora di "Bintang Gagal"

Astronom Temukan Adanya Aurora di "Bintang Gagal"
Ilustrasi aurora di sebuah katai coklat. Kredit: California Institute of Technology
Info Astronomy - Aurora paling kuat yang pernah terlihat di alam semesta telah ditemukan oleh tim astronom dari Institut Teknologi California (Caltech). Penemuan ini merupakan implikasi yang penting, karena bisa membantu kita untuk menemukan apa peran dari sebuah katai coklat atau yang astronom sebut "bintang gagal" di alam semesta.

Penemuan yang yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini menjelaskan adanya aurora di sebuah katai coklat yang bernama LSR J1835 + 3259, berjarak 18 tahun cahaya dari Bumi, ditemukan memiliki aurora 10.000 kali lebih kuat dari aurora di Jupiter, dan satu juta kali lebih kuat daripada aurora di Bumi.

Ini adalah pertama kalinya aurora telah terlihat di sebuah katai coklat. Aurora Bumi tampak hijau karena nitrogen dan oksigen, sedangkan aurora di katai coklat ini akan menjadi sangat merah, karena kelimpahan hidrogen.

Menggunakan Karl G. Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico, AS, tim astronom membuat penemuan dengan mengukur emisi radio yang datang dari objek tersebut. Mereka juga menggunakan data optik dari Hale Telescope di Palomar Mountain di San Diego dan Keck Telescope di Hawaii.

Katai coklat sering disebut sebagai bintang gagal karena mereka tidak mengumpulkan cukup massa untuk memulai fusi nuklir di inti mereka, tetapi mereka terlalu besar untuk digolongkan sebagai planet, diperkirakan katai coklat memiliki 13 hingga 80 kali massa Jupiter.

Bintang seperti Matahari kita tidak memiliki aurora, terutama karena atmosfernya yang sangat panas, yang dikenal sebagai korona, tidak mampu membentuk aurora. Penemuan katai coklat yang memiliki aurora ini karena katai coklat lebih mirip planet ketimbang bintang.

"Timbul pertanyaan, bagaimana aktivitas aurora di katai coklat ini muncul?" Kata pemimpin peneliti Gregg Hallinan dari Caltech. Seperti aurora di sebuah planet pada umumnya, aurora di katai coklat yang satu ini diperkirakan juga terjadi di beberapa katai coklat. "Aurora di katai coklat juga hanya terjadi di kedua kutubnya, tapi kita belum tahu pasti," tambahnya.

Hallinan menegaskan bahwa itu adalah aurora paling kuat yang pernah dilihat, dan jauh lebih intens dari apa yang teramati dan terjadi di Tata Surya kita. Jika Anda bisa berdiri di permukaan sang katai coklat ini, aurora yang Anda lihat akan satu juta kali lebih terang dari aurora di Bumi. Namun sejauh ini, para peneliti tidak sepenuhnya yakin bagaimana aurora ini terbentuk di katai coklat.

Dalam tata surya kita, aurora di Bumi tercipta oleh partikel dari Matahari yang membentur oksigen dan hidrogen di atmosfer kita. Sementara aurora di Jupiter adalah kombinasi dari partikel yang dipancarkan oleh satelit alami vulkaniknya yang bernama Io. "Tapi untuk katai coklat, tidak ada bintang di dekatnya, jadi kami tidak tahu apa yang menyebabkan aurora terbentuk di sana," kata Hallinan.

Dia berkata mungkin aurora tersebut terbentuk disebabkan oleh adanya planet seukuran Bumi yang mengorbit dan mempengaruhi medan magnet sang katai coklat. Planet ini mengorbit begitu dekat dengan katai coklat sehingga belum terdeteksi.

Ini adalah pertama kalinya aurora di katai coklat terlihat, Hallinan mengatakan bahwa ia mengharapkan aurora untuk hadir pada katai coklat lain di alam semesta. Dan itu bisa memberikan petunjuk penting dalam memelajari skema jagad raya.
Aurora Terbaru

30 Juli 2015

Ayo Jelajah Stasiun Luar Angkasa Internasional Lewat 'Panoramic Tour'

Astronot Italia, Samantha Cristoforetti saat masih bertugas di dalam ISS. Kredit: ESA
Info Astronomy - Astronot Italia yang berada di bawah naungan European Space Agency (ESA) Samantha Cristoforetti telah menghabiskan 199 hari melakukan eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Sebelum dia pulang ke Bumi pada Juni 2015 kemarin, dia memotret dan membawa serangkaian foto dari dalam ISS. Cristoforetti mengirimnya ke ESA, dan tim ESA telah merangkainya menjadi sebuah panorama yang dapat dijelajahi atau yang disebut Panoramic Tour.

Ketika Anda sedang menjelajahi ISS lewat Panoramic Tour ini, Anda dapat mengklik beberapa benda di sana yang nantinya akan muncul gambar atau video yang mendeskripsikan benda apa yang Anda klik tersebut. Persis seperti saat Anda menggunakan Google Street View.

Panoramic Tour memungkinkan Anda untuk menjelajahi seluruh bagian ISS kecuali modul Rusia (karena Cristoforetti tidak mendapat izin untuk memotretnya). Namun ESA mengatakan bahwa, seluruh bagian ISS termasuk modul Rusia akan tersedia pada akhir tahun ini.

Untuk menjelajahi ISS, klik di sini.
Astronot Terbaru

 

Planet | Bintang | Meteor | Asteroid | Komet | Lubang Hitam

Join our newsletter!

Subscribe here to get our newsletter in your inbox, it is safe and EASY!

Copyright © 2012-2015 Info Astronomy
Designed by Riza and Templateism