Situs Media Berita Astronomi Indonesia

Temukan lebih dari 5000 artikel astronomi di sini!

Artikel Populer

Artikel Terkini

24 Mei 2015

Cahaya Galaksi ini 300 Miliar kali Lebih Terang dari Matahari!

Ilustrasi galaksi paling terang di alam semesta saat ini. Kredit: NASA
Info Astronomy - Sebuah galaksi terpencil di alam semesta bersinar dengan cahaya lebih dari 300 miliar kali lebih terang dari matahari telah ditemukan menggunakan data dari Wide-NASA Infrared Survey Explorer (WISE). Galaksi ini adalah galaksi paling terang yang ditemukan sampai saat ini.

"Kami melihat fase yang sangat intens dari evolusi galaksi," kata Chao-Wei Tsai dari NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) di Pasadena, California, sang penulis laporan di edisi 22 Mei dari The Astrophysical Journal. "Cahaya menyilaukan ini mungkin dari percepatan pertumbuhan utama lubang hitam galaksi."

Galaksi super terang, yang dikenal sebagai WISE J224607.57-052635.0, mungkin memiliki lubang hitam raksasa didalamnya. Lubang hitam besar ini umumnya berada di inti galaksi. Lubang hitam tersebut memiliki massa miliaran kali massa matahari kita ketika alam semesta kita hanya sepersepuluh dari usia saat ini (13,8 miliar tahun).

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memecahkan teka-teki dari galaksi yang menyilaukan
ini. Tim astronom NASA JPL memiliki rencana untuk lebih menentukan massa lubang hitam di pusat galaksi ini.

WISE telah menemukan lebih dari jutaan galaksi eksentrik dalam gambar inframerah dari seluruh alam semesta sejak tahun 2010. Dengan sensitivitas lebih dari Kepler, WISE mampu menangkap spesimen kosmik langka yang mungkin telah tidak ada di alam semesta.

JPL mengelola dan mengoperasikan WISE untuk Direktorat Misi Sains NASA di Washington. Wahana luar angkasa itu dimasukkan ke dalam mode hibernasi pada tahun 2011. Pada bulan September tahun 2013, WISE diaktifkan kembali, berganti nama NEOWISE dan ditugaskan misi baru untuk membantu upaya NASA mengidentifikasi objek dekat Bumi yang berpotensi berbahaya.
Alam semesta Galaksi Terbaru

Dua Gerhana Bintang akan Terjadi Minggu (24/5) Malam

Dua Gerhana Bintang akan Terjadi Minggu (24/5) Malam
Okultasi Jupiter. Kredit: Fred Quimby Azheim
Info Astronomy - Peristiwa astronomi spesial kembali akan terjadi di Indonesia di bulan Mei ini. Peristiwa ini spesial sebab tidak biasa alias langka. Penasaran? Simak.

Informasi yang penulis terima dari Dr. David Dunham, founder International Occultation Timing (IOTA) serta software Occult Watcher menyatakan bahwa akhir Mei ini akan terjadi dua peristiwa tertutupnya sebuah bintang oleh asteroid atau bisa diistilahkan "gerhana bintang" dimana kedua peristiwa tersebut ternyata dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Posisi saat okultasi Regulus oleh asteroid Dagmar. Kredit: Mutoha Arkanuddin
Peristiwa yang juga sering disebut sebagai okultasi ini yang pertama adalah terjadinya okultasi bintang Regulus, bintang paling terang di Rasi Leo yang akan tertutup oleh asteroid (1669) Dagmar yang berukuran 43 km.

Peristiwa ini bakal terjadi pada tanggal 24 Mei 2015 jam 23.50 WIB yang diprediksi akan terlihat di sekitar Sumatera Selatan dan pantai barat Bengkulu dengan posisi obyek berada beberapa derajat di atas ufuk sebelum terbenam dengan lama ketertutupan atau durasi sentral sekitar 2,4 detik.

Jadi, tidak seluruh Indonesia mampu melihatnya. Wilayah yang tidak disebutkan di atas hanya akan melihat Regulus yang dekat dengan Dagmar.

Okultasi Delta Sagittari oleh asteroid Julietta. Kredit: Mutoha Arkanuddin
Peristiwa okultasi kedua akan terjadi hanya dua malam kemudian dalam kondisi yang jauh lebih baik, yaitu ketika asteroid berukuran 42 km yang bernama (1285) Julietta akan menutup bintang Delta Sagittarii atau yang dikenal dengan nama Kaus Meridianalis di Rasi Sagitarius.

Peristiwa "gerhana Bintang" kedua ini akan terjadi pada tanggal 26 malam atau 27 Mei 2015 dinihari pukul 02:18 WIB dengan jalur ketertampakan di sekitar Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Jalur okultasi juga melewati selatan Sulawesi, Maluku, dan Papua Barat pada 2 sampai 4 menit sebelumnya.

Pada saat peristiwa okultasi terjadi, posisi bintang cukup tinggi sekitar 65 derajat di atas ufuk langit Selatan atau sedikit di Utara ekor Rasi Scorpius (Kalajengking) dengan durasi sentral diperkirakan 6 detik.

Saat okultasi terjadi kita akan melihat selama beberapa detik seolah cahaya bintang tersebut hilang lenyap begitu saja dan beberapa saat kemudian akan muncul kembali.

Bagi astronom peristiwa okultasi bintang oleh asteroid tentu sangat penting artinya karena dengan rangkaian observasi yang simultan di beberapa lokasi secara bersamaan akan didapatkan informasi yang lebih tepat mengenai ukuran, komposisi, orbit, perioda maupun rotasinya.

Selamat mengamati!

Seluruh artikel dan foto (kecuali foto Okultasi Jupiter) sepenuhnya hak cipta Mutoha Arkanuddin, telah disunting seperlunya oleh Editor Info Astronomy
Fenomena Terbaru

24 Mei 2015: Konjungsi Bulan dengan Planet Jupiter

Letak Bulan dan Planet Jupiter, 24 Mei 2015 jam 19:00. Kredit: Stellarium, Info Astronomy
Info Astronomy - Pemandangan langit Barat senja ini bakal terlihat cantik dihiasi Bulan, bintang-bintang dan tentu saja, Planet Jupiter dan Planet Venus.

Yang lebih menarik lagi, Bulan dan Planet Jupiter akan membuat pendekatan terdekat mereka senja ini, keduanya bakal bersebelahan sekitar 4°58' satu sama lain. Tentu saja ini akan menjadi pemandangan yang cantik.

Dari Indonesia, peristiwa yang disebut Konjungsi Bulan-Jupiter ini bakal terlihat sekitar pukul 17:56 waktu lokal daerah Anda, saat itu mereka berkedudukan 63° di atas cakrawala Barat Laut Anda. Mereka kemudian akan tenggelam menuju cakrawala Barat Laut sekitar 5 jam 12 menit setelah Matahari terbenam, atau pada 22:53.

Pada saat pendekatan terdekat, Bulan akan berada di magnitudo -11,4, dan Jupiter di magnitudo -2.0, dan berada di konstelasi Cancer. Pasangan ini akan terlalu luas terpisah untuk muat dalam bidang pandang teleskop.

Tidak punya teleskop? Jangan kuatir. Anda tetap bisa melihat Konjungsi Bulan-Jupiter ini, namun tentu saja Jupiter hanya akan nampak bagai bintang kuning kecil seperti pada foto di bawah ini.

Letak Bulan dan Jupiter, 24 Mei 2015 jam 19:00. Kredit: Stellarium, Info Astronomy
Selamat mengamati!
Alam semesta Fenomena Terbaru

23 Mei 2015

Oposisi: Malam Ini Saat-saat Terbaik Mengamati Planet Saturnus

Pekan Ini adalah Saat-saat Terbaik Mengamati Planet Saturnus
Saturnus di langit Puerto Rico, 25 Maret 2015. Kredit: Efrain Morales Rivera
Info Astronomy - Bumi berputar mengelilingi Matahari setahun sekali. Saturnus berputar mengelilingi Matahari sekali setiap 30 tahun. Ini berarti Bumi kita bakal berada di antara Saturnus dan Matahari setiap sekali dalam setahun. Pada tahun 2015, peristiwa ini --disebut oposisi Saturnus-- terjadi pada tanggal 23 Mei.

Jika Anda memiliki teleskop, tentu Anda akan merasa dimanjakan dengan fenomena ini. Karena meskipun semua dari empat planet luar memiliki cincin, tapi sistem cincin paling spektakuler di antara mereka adalah milik Saturnus.

Saat oposisi Saturnus, inilah saat-saat terbaik untuk mengamati sang planet bercincin. Saturnus akan bertengger di konstelasi Libra. Ini akan terlihat sepanjang malam, mencapai titik tertinggi di langit pada sekitar tengah malam waktu setempat daerah Anda.

Dari Indonesia, Saturnus akan terlihat mulai pukul 18:28 hingga keesokan hari pukul 05:10 waktu lokal. Saturnus akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 23:47 waktu lokal, sekitar 77° di atas horison Selatan Anda.

Jika tidak punya teleskop, apakah bisa mengamati juga? Tentu saja bisa. Namun jika Anda hanya melihat Saturnus dengan mata, Saturnus hanya akan nampak bagai bintang kuning terang saja, tidak lengkap dengan cincinnya. Ini dikarenakan jarak Bumi-Saturnus begitu jauh, kurang lebih sekitar 800.000.000 kilometer!

Pekan-pekan berikutnya setelah oposisi, Saturnus akan mencapai titik tertinggi di langit empat menit lebih lambat setiap malam, secara bertahap ia akan muncul saat dinihari, tidak lagi setelah sunset.

Selamat mengamati!
Fenomena Terbaru

Tips Memotret Bintang

Selfie dengan Bima Sakti. Kredit: CMG Photography
Info Astronomy - Sebutlah namanya Astrofotografi. Astrofotografi adalah salah satu seni fotografi yang mengambil foto objek seputar langit malam dan objek-objek langit lainnya seperti planet, bulan, galaksi, nebula, cluster dan bintang-bintang.

Bagi sebagian orang, astrofotografi merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. Bagi penulis pribadi memotret bintang, nebula dan langit malam merupakan sebuah aktifitas yang memiliki kepuasan dan pesona tersendiri.

Pada sesi kali ini penulis ingin berbagi tips kepada kawan-kawan bagaimana cara memotret bintang di langit malam dengan tingkatan pemula. Namun sebelum menginjak lebih jauh akan penulis paparkan beberapa syarat yang harus dan wajib ada untuk membuat sebuah karya astrofotografi.

Berikut persyaratan yang harus dipenuhi untuk membuat sebuah foto langit yang berlatar belakang kan objek bintang-bintang.

  1. Kamera harus mendukung pengaturan “Manual” dan teknik “Long Exposure”. Dimana shutter speed/Exposure time dapat diatur hingga beberapa detik.
  2. Langit malam yang bebas dari polusi cahaya. Definisi utama dari langit malam yang terbebas dari polusi cahaya adalah langit tidak diterangi oleh cahaya-cahaya lampu kota dan langit bersih dari polusi udara(asap), awan maupun kabut. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah mata kita dapat melihat banyak bintang dilangit. Jika hanya satu atau dua bintang yang terlihat maka bisa jadi polusi cahaya sudah sangat tinggi. Tempat terbaik untuk memotret bintang adalah di desa, pegunungan, tepi pantai ataupun tempat yang jauh dari lampu-lampu perkotaan.
Perbedaan langit penuh polusi cahaya dengan terbebas polusi cahaya. Dok: Eko Hadi G
Setelah dua persyaratan itu dapat dipenuhi maka selanjutnya penulis akan paparkan bagaimana cara mensetting kamera agar kamera dapat memotret bintang-bintang dilangit malam. Dalam tutorial ini penulis menggunakan kamera DSLR level pemula yaitu Kamera Canon EOS 500D.

Pada dasar nya, semua kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) memiliki settingan yang sama hanya saja penempatan tombol dan tampilannya yang berbeda.

Atur Kamera dengan tekhnik Long Exposure
Tepatkan settingan kamera pada mode M atau Manual. [Lihat Gambar 1.]

Gambar 1.
Masuk pada settingan Manual, berikan setingan sebagai berikut:
  • ISO 3200 (semakin tinggi semakin baik karena peka terhadap cahaya)
  • F4.0 (atau angka terkecil)
  • Picture Style Landscape
  • Exposure time 30″ (30 detik)
  • Kualitas gambar Raw + L atau menyesuaikan kapasitas memori boleh menggunakan Small, Medium atau Large.
Gambar 2.
Deskripsi:
ISO atau ASA merupakan tingkat kepekaan cahaya pada sensor kamera dalam menangkap banyakya cahaya. Semakin tinggi angka ISO nya maka semakin tinggi kepekaan sensor kamera terhadap cahaya yang didapat dari objek yang di potret.

F4.0 merupakan setingan diafragma pada kamera. Diafragma pada kamera berfungsi sebagai pengatur banyak sedikit nya cahaya yang masuk kedalam sensor kamera. Semakin kecil angka diafragma maka semakin lebar diafragma yang dibuka dan cahaya yang masuk semakin banyak.

Exposure time 30″ merupakan setingan waktu dari lamanya sensor kamera dalam menangkap cahaya. Semakin lama maka akan semakin banyak cahaya yang di dapatkan.

Picture Style. Picture style yang akan kita gunakan adalah Landscape. Karena kita memotret langit malam dan cenderung objek yang di potret bersudut pandang lebar dan luas maka disarankan menggunakan setingan landscape agar warna yang didapat lebih maksimal. Tidak menutup kemungkinan anda dapat mencoba Potrait dan Neutral.

Kualitas gambar. Kualitas gambar merupakan pilihan yang dapat anda sesuaikan terhadap kebutuhan dan kapasitas memory yang anda gunakan. Dalam tutorial ini anda boleh menggunakan setingan Large, Medium maupun Small.

Cara Memasukkan settingan
ISO
Untuk mengganti ISO, tekan tombol ISO dan pilih angka ISO seperti yang diinginkan.

Gambar 3.
Diafragma
Tekan dan tahan tombol Av kemudian putar “Shutter Speed” kekanan atau kekiri.

Gambar 4.
Exposure time
Putar “Shutter Speed” kekiri.

Gambar 5.
Picture Style
Tekan tombol kebawah maka akan muncul Settingan Picture Style. Pilih Landscape.

Gambar 6.
Setelah kamera disetting pada mode Manual dengan exposure time 30 detik, kini saatnya kita memotret bintang-bintang dilangit.

Memotret bintang dilangit
Pastikan lensa telah fokus terhadap objek berjarak jauh. Jika kesulitan mengambil fokus, ubah setting lensa menjadi auto focus (AF) dan ubah exposure time ke 10″ kemudian arahkan lensa ke titik cahaya (lampu) terjauh dan paling terang.

Cobalah untuk memotret lampu atau cahaya terang tersebut. Setelah itu lihat hasilnya. Jika hasil foto ternyata sudah fokus maka ubah setingan lensa dari autofocus ke manual dan kembalikan exposure time dari 10″ menjadi 30″.

Kini kamera siap untuk memotret bintang-bintang di langit malam. Untuk memotret Bima Sakti, silakan arahkan lensa ke jalur galaksi Bima Sakti. Pasang kamera pada tripod dan mulailah mengarahkan kamera.. 

Setelah Anda yakin siap untuk memotret bintang, pastikan tripod dan kamera sudah terkunci dan tidak ada gerakan sedikitpun pada kamera dan tripod. Tekan shutter dan biarkan kamera memotret langit selama 30 detik.

Ingat! pada saat proses pemotretan dilarang menggerakkan kamera maupun tripod karena sedikit getaran saja bisa membuat foto dari bintang menjadi bergaris (trail). Selamat mencoba dan selamat memotret langit malam yang bertaburkan bintang-bintang dari galaksi Bima Sakti!

Seluruh dokumen foto dan isi artikel dimiliki oleh KafeAstronomi.com, disunting seperlunya oleh Editor Info Astronomy.
Bintang Terbaru Tips

22 Mei 2015

Bagaimana Masa Depan Para Lulusan Astronomi?

Bagaimana Masa Depan Para Lulusan Astronomi?
Observatorium Bosscha. Kredit: Bosscha
Info Astronomy - Astronomi! Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata ini? Semua hal terkait benda langit? Langit malam penuh bintang? Foto-foto indah dari langit?

Astronomi adalah ilmu alam yang mempelajari benda-benda langit termasuk di dalamnya mempelajari aspek fisika, kimia, biologi, dan juga evolusi dari benda-benda tersebut. Tak hanya itu, astronomi juga mempelajari fenomena di luar atmosfer Bumi, seperti ledakan supernova, ledakan sinar-gamma, radiasi latar belakang mikrokosmik dan lain-lainnya.

Secara sederhana, astronomi merupakan ilmu yang mempelajari, bintang, planet dan antariksa.

Tapi, bagi masyarakat umum, astronomi lebih dikenal dari keindahan foto-foto langit yang dihasilkan baik oleh para astronom maupun astronom amatir. Apalagi dengan kehadiran teleskop landas angkasa, foto-foto dari antariksa yang disajikan pun semakin menakjubkan. Misteri yang tersimpan di balik setiap foto membangun ketertarikan dan rasa ingin tahu akan apa yang terjadi di alam semesta.

Keindahan ini pulalah yang membawa sebagian besar penyuka astronomi untuk tertarik mendalami lebih lanjut bidang yang satu ini lewat pendidikan tinggi di jurusan Astronomi. Tapi, pertanyaan lain pun hadir, seandainya saya memilih astronomi sebagai pilihan studi selama 4 tahun, di manakah saya akan bekerja?

Pertanyaan ini pulalah yang menjadi keraguan bagi orang tua untuk merelakan anak-anaknya memilih jurusan astronomi di jenjang perguruan tinggi. Di manakah anak saya kelak akan bekerja? Lapangan kerja seperti apa yang menanti masa depan anak saya?

Mengapa memilih astronomi?
Sebagian besar pemilih astronomi selalu mendasarkan pilihannya pada kecintaannya akan astronomi dan kekagumannya akan keindahan alam semesta serta misteri yang ada di baliknya. Ada banyak cerita dan ungkapan yang diberikan untuk menggambarkan rasa cinta akan astronomi yang kemudian menjadi dasar untuk menggeluti astronomi sebagai profesi impian.

Tapi, menggeluti astronomi sebagai profesi memiliki tantangan tersendiri. Dasar paling utama dalam menekuni astronomi adalah keingintahuan untuk memahami setiap obyek dan kejadian di alam semesta. Dan rasa ingin tahu itu harus terus bertumbuh dan tidak pernah mati untuk mencari jawaban atas setiap misteri.

Bagaimana bintang dan planet terbentuk? Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana alam semesta dimulai? Bagaimana kehidupan bisa tumbuh dan berkembang? Apakah kehidupan ada di planet lain? Dan masih banyak pertanyaan yang harus dicari jawabannya.

Jawaban itu bisa diperoleh dari pengamatan atau dari teori yang dibangun berdasarkan hukum-hukum fisika yang bekerja di alam semesta. Artinya, butuh pemahaman yang baik tentang matematika, fisika, kimia, biologi, sains komputasi untuk bisa menelaah lebih jauh misteri alam semesta.

Memilih astronomi sebagai profesi atau bidang yang digeluti saat kuliah juga tidak berarti akan ada pengamatan yang sangat rutin seperti halnya ketika menekuni hobi astronomi. Astronom di masa kini, memang masih mempelajari dan melakukan pengamatan.

Tapi astronomi modern sudah mulai bergeser atau bisa dikatakan sudah bergeser terutama di negara-negara maju. Teleskop dikendalikan dari jarak jauh dan astronom bisa menunggu hasil pengamatannya dari ruangan yang nyaman dan hangat. Ketika hasil itu datang, maka yang dilakukan adalah pengolahan dan analisa data pengamatan.

Jika memang sudah siap dengan tuntutan kerja seperti itu, artinya kamu pun siap untuk memilih astronomi sebagai pilihan jurusan untuk perkuliahan. Tapi, kuliah di astronomi bukan berarti kamu akan menjadi astronom profesional. Mengapa demikian?

Astronom profesional bukanlah lulusan astronomi tapi mereka yang kemudian menggeluti dunia astronomi sebagai profesinya. Artinya tidak semua lulusan astronomi adalah astronom profesional? Atau dengan kata lain, tidak semua lulusan astronomi akan bekerja di astronomi. Jadi... terkait dengan pertanyaan awal. Setelah lulus dari astronomi, dimanakah seseorang akan bekerja?

Astronomi Sebagai Profesi
Untuk menjadi astronom, jurusan yang bisa digeluti sebenarnya bukan hanya astronomi. Seseorang bisa memulai perjalanan sebagai astronom dengan mengawali langkahnya di jurusan fisika, matematika atau jurusan teknik terkait.

Di Indonesia, sebagian besar pandangan umum masyarakat, jika ingin menjadi astronom maka kuliahlah di astronomi. Dan pertanyaan berikut yang mengiringi, lapangan pekerjaan astronomi itu dimana saja?

Untuk menjadi astronom profesional, pendidikan sarjana di astronomi barulah permulaan, karena jenjang tersebut merupakan dasar untuk mempelajari astronomi sebelum mempersempit bidang keahlian di astronomi lewat program pascasarjana dan doktoral.

Setelah itu, ia harus melakukan penelitian yang menghasilkan makalah yang diterbitkan di jurnal ilmiah. Paper atau makalah ilmiah merupakan rekam jejak bagi para astronom untuk terus berkiprah sekaligus memperoleh kesempatan untuk bekerja di bidang yang ia tekuni.

Pada umumnya tidak semua lulusan astronomi akan melanjutkan studi di astronomi atau bekerja di astronomi.

Bagi mereka yang memilih untuk menekuni dunia astronomi, maka profesi yang paling umum adalah menjadi peneliti dan dosen. Dengan berkembangnya edukasi astronomi dan penjangkauan masyarakat, dibutuhkan juga pengajar atau guru, sains komunikator, penulis maupun jurnalis yang mampu untuk menjembatani para astronom dan masyarakat.

Lahan pekerjaan bagi mereka yang hendak menggeluti dunia astronomi, merentang dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga antariksa, observatorium, planetarium, pusat sains, sekolah, maupun media astronomi dan media massa pada umumnya.

Tapi, pertanyaan lain tentunya akan muncul. Bukankah, lahan pekerjaan sebagai peneliti dan dosen astronomi tidak banyak di Indonesia? Terkait dosen, perlu diingat bahwa lahan pekerjaan yang bisa diisi tidak hanya sebagai dosen astronomi karena tidak semua universitas di Indonesia membutuhkan dosen astronomi dan astrofisika.

Jurusan astronomi, untuk saat ini, hanya ada satu di Indonesia, yakni di Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk itu lahan pekerjaan yang tersedia adalah dosen Fisika dengan kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan astrofisika di perguruan tinggi tersebut.

Persoalan lahan pekerjaan bagi astronom profesional tidak hanya terjadi di negara berkembang melainkan juga di negara maju. Akan tetapi pengembangan astronomi di berbagai negara juga menjadi lahan pekerjaan baru bagi astronom,

Tapi, kali ini kompetisinya tidak lagi di suatu negara melainkan antar negara. Disinilah setiap lulusan astronomi atau astronom dituntut untuk dapat melihat kesempatan yang ditawarkan di dunia.

Contohnya, dibangunnya teleskop radio, maupun teleskop optik di berbagai belahan dunia menjadi kesempatan bagi para astronom untuk memperoleh pekerjaan. Kuncinya, kemauan untuk melihat ke luar negaranya dan tidak hanya terpaku pada kesempatan di negara sendiri.

Selain mempelajari fisika, matematika atau pengamatan, seorang mahasiswa astronomi dituntut juga untuk memahami pemrograman, instrumentasi, menulis makalah, presentasi dan berkomunikasi dengan masyarakat awam.

Apabila sesorang lulusan astronomi ingin melanjutkan karirnya di bidang astronomi, maka dianjurkan dia meneruskan pendidikannya hingga doktor (S3).

Akan tetapi, jika dia tidak memilih untuk berkiprah sebagai astronom peneliti, maka berbekal pengetahuan beragam yang dipelajari di astronomi, serta dasar logika fisika dan matematika yang kuat, lulusan yang memutuskan untuk tidak menekuni dunia astronomi akan memiliki profesi yang beragam.

Ada yang berkiprah (dan berprestasi) di bidang satelit dan telekomunikasi, industri, manajemen, keuangan, penerbit, teknologi informasi, instrumentasi, ekonomi, desain, filsafat, industri pertelevisian, pendidikan, seni, dan ada yang kemudian berkiprah sebagai entrepreuneur.

Kuliah di astronomi memang membuka kesempatan untuk berkiprah di berbagai bidang antara lain karena ragam kebutuhan dari mata kuliah yang dipelajari. Jadi di manakah saya bekerja setelah lulus dari astronomi? Bisa di mana saja!

Avivah Yamani, astronom komunikator. Langitselatan.com.
Astronomi Terbaru

 

Planet | Bintang | Meteor | Asteroid | Komet | Lubang Hitam

Join our newsletter!

Subscribe here to get our newsletter in your inbox, it is safe and EASY!

Copyright © 2012-2015 Info Astronomy
Designed by Riza Miftah Muharram and Templateism